Huda, Khizbulloh and Naryoso, Agus (2026) PEMAKNAAN WACANA KRITIK KEKUASAAN DALAM LAGU PUNK “GELAP GEMPITA” KARYA SUKATANI OLEH DEMONSTRAN INDONESIA GELAP. Undergraduate thesis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro.
|
Text
Khizbulloh Huda_14040121130081_COVER.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
|
|
Text
Khizbulloh Huda_14040121130081_BAB 1.pdf - Submitted Version Download (1MB) |
|
|
Text
Khizbulloh Huda_14040121130081_BAB 2.pdf - Submitted Version Download (833kB) |
|
|
Text
Khizbulloh Huda_14040121130081_BAB 3.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (4MB) |
|
|
Text
Khizbulloh Huda_14040121130081_BAB 4.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (429kB) |
|
|
Text
Khizbulloh Huda_14040121130081_BAB 5.pdf - Submitted Version Download (189kB) |
|
|
Text
Khizbulloh Huda_14040121130081_DAFTAR PUSTAKA.pdf - Submitted Version Download (189kB) |
|
|
Text
Khizbulloh Huda_14040121130081_LAMPIRAN.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
Abstract
Penelitian tentang subkultur punk di Indonesia menunjukkan bahwa
anarkisme tidak hanya hadir sebagai estetika, tetapi juga sebagai landasan ideologis
yang dijalankan dalam praktik keseharian komunitas. Namun, sebagian besar studi
tersebut berangkat dari perspektif aktor internal subkultur, sementara audiens arus
utama belum banyak diposisikan sebagai subjek penelitian. Pembredelan karya duo
punk Sukatani oleh kepolisian pada Februari 2025, yang terjadi bersamaan dengan
gelombang demonstrasi Indonesia Gelap, menghadirkan momen ketika teks
subkultural keluar dari sirkuit asalnya dan beredar luas sebagai anthem protes di
ruang publik. Situasi ini membuka peluang untuk meneliti bagaimana audiens arus
utama memaknai teks dengan akar anarko-punk dalam konteks yang lebih luas.
Penelitian ini menggunakan analisis resepsi dengan merujuk pada model budaya
populer John Fiske, melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap lima
demonstran Indonesia Gelap.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa “Gelap Gempita” mengalami
dekontekstualisasi dalam ekosistem platform digital, bergeser dari ekspresi
anarkisme ekologis menjadi komoditas yang dikonsumsi atas vibe-nya. Namun,
represi aparat yang memicu klarifikasi dan penarikan lagu justru mendorong
repolitisasi teks tersebut. Para demonstran mengekskorporasi fragmen anarkis
sesuai subjektivitasnya masing-masing: empat partisipan menegosiasikan muatan
anarkisme ke dalam kerangka kritik demokratis dengan penekanan yang bervariasi,
sementara satu partisipan menerima pesan ideologisnya secara lebih utuh. Sifat
producerly dari teks, terutama melalui penanda bercelah seperti “mereka,” “the
light,” dan “this flag,” memungkinkan beragam tafsir ideologis. Meski demikian,
keterbatasan warisan diskursif Kiri pasca-Orde Baru membatasi potensi artikulasi
yang lebih radikal, sehingga pemaknaan yang muncul umumnya tetap berada dalam
kerangka kritik demokratis dalam batas-batas institusi formal. Penelitian
selanjutnya disarankan memperluas pendekatan metodologis melalui etnografi
lapangan dan observasi partisipatoris untuk turut menangkap dimensi afektif dan
ketubuhan yang tidak terjangkau wawancara mendalam.
Kata kunci: analisis resepsi, budaya populer, subkultur, anarkisme, musik
protes, musik punk, Sukatani, demonstrasi Indonesia Gelap, kritik
kekuasaan
96. Ilmu Komunikasi 2026
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Subjects: | Social Science and Political Science |
| Divisions: | Faculty of Social and Political Sciences > Department of Communication |
| Depositing User: | diana nirwani |
| Date Deposited: | 06 Apr 2026 07:47 |
| Last Modified: | 06 Apr 2026 07:47 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/48596 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
