Search for collections on Undip Repository

Analisis Makna konotatif dan Budaya Jepang: “Iblis” dalam Kanji Ber-Bushu Oni 意味論的分析と日本文化:武州鬼を持つ漢字の「鬼」

Ngaziz, Malik (2025) Analisis Makna konotatif dan Budaya Jepang: “Iblis” dalam Kanji Ber-Bushu Oni 意味論的分析と日本文化:武州鬼を持つ漢字の「鬼」. Undergraduate thesis, Universitas Diponegoro.

[thumbnail of FULLTEXT_MALIK.pdf] Text
FULLTEXT_MALIK.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (3MB) | Request a copy
[thumbnail of COVER_MALIK.pdf] Text
COVER_MALIK.pdf - Published Version

Download (1MB)
[thumbnail of BAB 1 MALIK.pdf] Text
BAB 1 MALIK.pdf - Published Version

Download (1MB)
[thumbnail of BAB 2 MALIK.pdf] Text
BAB 2 MALIK.pdf - Published Version

Download (1MB)
[thumbnail of BAB 3 MALIK.pdf] Text
BAB 3 MALIK.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (1MB) | Request a copy
[thumbnail of BAB 4 MALIK.pdf] Text
BAB 4 MALIK.pdf - Published Version

Download (1MB)
[thumbnail of BAB 5 MALIK.pdf] Text
BAB 5 MALIK.pdf - Published Version

Download (1MB)
[thumbnail of DAPUS MALIK.pdf] Text
DAPUS MALIK.pdf - Published Version

Download (1MB)
[thumbnail of LAMPIRAN MALIK.pdf] Text
LAMPIRAN MALIK.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (1MB) | Request a copy

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna konotatif dan representasi budaya dari empat karakter kanji yang memiliki radikal (鬼/oni), yaitu 魂 (tamashii), 醜 (minikui), 魁 (sakigake), dan 魅 (mi). Dengan menggunakan teori pembentukan kanji rikusho, teori makna Geoffrey Leech, dan semiotika Roland Barthes, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana elemen visual dalam struktur kanji menyampaikan lebih dari sekadar makna harfiah, berfungsi sebagai simbol budaya yang kompleks dan berlapis-lapis. Kesimpulan utamanya menunjukkan bahwa keberadaan radikal (鬼/oni) tidak secara otomatis membuat karakter tersebut bermakna 'iblis' dalam arti negatif. Sebaliknya, ditemukan keragaman makna yang dipengaruhi oleh struktur fonetik dan semantik masing-masing karakter, serta konteks budaya di mana karakter-karakter tersebut digunakan. Dalam budaya Jepang, khususnya dalam mitologi dan representasi populer seperti anime dan manga, karakter oni telah berkembang sebagai simbol yang ambivalen (bertentangan), tidak hanya menakutkan, tetapi juga mempesona, kuat, dan bahkan melindungi.

Analisis terhadap 魂 (tamashii), yang berarti 'jiwa' atau 'roh', menunjukkan bahwa elemen (鬼/oni) menandai aspek supranatural dari entitas spiritual manusia. Di sini, 'iblis' tidak dimaknai sebagai makhluk jahat, tetapi lebih sebagai kekuatan tak kasat mata yang melampaui dunia nyata. Hal ini memperlihatkan bahwa dalam tradisi Jepang, hal-hal yang tidak tampak seperti roh, arwah leluhur, atau kekuatan spiritual justru diasosiasikan dengan kekuatan yang harus dihormati. Kanji kedua, 醜 (minikui), yang berarti 'jelek' atau 'buruk rupa', mengungkap sisi lain dari radikal (鬼/oni). Dalam karakter ini, konotasi negatif memang lebih menonjol. Kombinasi dengan unsur (酉 sake no tori) menyiratkan hubungan antara keburukan moral dan kondisi tidak sadar akibat alkohol. Berbeda dengan dua kanji sebelumnya, 魁 (sakigake), yang berarti 'pelopor' atau 'pemimpin', memperlihatkan sisi positif dari simbolisme 'oni'. Karakter ini menggabungkan radikal (鬼/oni) dengan radikal (斗 to/masu), yang melambangkan penunjuk arah atau kepemimpinan. Kanji terakhir, 魅 (mi), yang berarti 'daya tarik' atau 'pesona', membawa pada dimensi lain dari simbolisme 'oni' yaitu pesona yang ambigu. Dalam konteks ini, daya tarik tidak netral; ia bisa menghipnotis, menggoda, bahkan menyesatkan.

Dari keempat kanji tersebut, jelas bahwa radikal (鬼/oni) tidak hanya berfungsi sebagai komponen struktural, tetapi juga membawa nilai-nilai budaya yang kaya dan kontekstual. Dalam masyarakat Jepang, simbol 'oni' adalah refleksi dari ambiguitas nilai kekuatan sekaligus ancaman, keindahan sekaligus keburukan, pelindung sekaligus perusak. Ini berakar dari pandangan dunia Shinto dan Buddhis yang tidak memisahkan dunia spiritual dari dunia nyata, serta tidak selalu mengotak-kotakkan sesuatu ke dalam hitam dan putih. 'Oni' dalam hal ini adalah metafora tentang bagaimana manusia hidup berdampingan dengan kekuatan-kekuatan yang tak terjelaskan, yang bisa membantu maupun menghancurkan. Dari sisi linguistik, penelitian ini menunjukkan bahwa makna sebuah kanji tidak bisa dilepaskan dari latar budaya dan sejarah pembentukannya. Analisis semantik dan semiotik membuka ruang interpretasi yang lebih dalam dibandingkan sekadar terjemahan harfiah.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Kanji, Makna Konotatif, Budaya Jepang
Subjects: Humanities
Divisions: School of Vocation > Diploma in Japanese
Depositing User: Oktavia Perpus Vokasi
Date Deposited: 11 Jan 2026 15:25
Last Modified: 11 Jan 2026 15:25
URI: https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/39101

Actions (login required)

View Item View Item