Apreliawan, Risqi and Ramadhan, Dani Mohammad and Purwanti, Tari (2023) KESENIAN BALAJAD DUSUN KALITANGI STUDI KASUS: DUSUN KALITANGI, DESA GENTING, KECAMATAN JAMBU, KABUPATEN SEMARANG. Undergraduate thesis, FAKULTAS ILMU BUDAYA.
|
Text
RISQI APRELIAWAN_13060116130032_Cover.pdf Download (724kB) |
|
|
Text
RISQI APRELIAWAN_13060116130032_Bab I.pdf Download (298kB) |
|
|
Text
RISQI APRELIAWAN_13060116130032_Bab II.pdf Restricted to Registered users only Download (255kB) |
|
|
Text
RISQI APRELIAWAN_13060116130032_Bab III.pdf Restricted to Repository staff only Download (654kB) |
|
|
Text
RISQI APRELIAWAN_13060116130032_Bab IV.pdf Restricted to Repository staff only Download (601kB) |
|
|
Text
RISQI APRELIAWAN_13060116130032_Bab V.pdf Download (182kB) |
|
|
Text
RISQI APRELIAWAN_13060116130032_Dafpus.pdf Download (9kB) |
|
|
Text
RISQI APRELIAWAN_13060116130032.pdf Download (1MB) |
Abstract
Kesenian Balajad merupakan tarian tradisional yang ada di dusun Kalitangi, Desa
Genting, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Kesenian ini pada awalnya adalah media
dakwah yang digunakan oleh Mbah Dulrohman untuk menyebarkan ajaran Islam. Kesenian ini
terdiri dari tiga babak antara lain: (1) babak balajad, (2) babak ndayakan, (3) babak mbaong.
Babak balajad menggunakan atribut jubah seperti orang-orang dari Timur Tengah. Kostum ini
menggambarkan para pendakwah yang hendak menyebarkan agama Islam. Babak ndayakan
yang menggunakan kostum serba hitam menjadi gambaran orang-orang yang belum mengenal
tatanan. Ndayakan merepresentasikan masyarakat yang menjadi sasaran dakwah balajad.
Sedangkan babak mbaong merepresentasikan hawa nafsu yang ada dalam diri manusia. Kesenian
ini mengalami mati suri pada tahun 1992-2005 bahkan dari tahun 2019 sampai sekarang belum
juga dimainkan. Mati suri tersebut merupakan puncak gunung es dari berbagai permasalahan
yang ada didalamnya. Masalah tersebut antara lain perbedaan pandangan mengenai kesakralan
kesenian ini. Para tetua kesenian berpandangan kesenian ini sebagai sesuatu yang sakral
sedangkan generasi muda menganggap kesenian ini hanya sebatas hiburan. Masalah lain yang
dialami Balajad adalah mahalnya biaya operasional ketika akan pentas. Iuran yang dikumpulkan
terkadang tidak cukup sehingga dibutuhkan peran pemerintah dalam menangani masalah ini.
Selain itu dengan kematian para tokoh-tokoh tetua berdampak pada kurangnya hubungan
harmonis diantara masyarakat. Masyarakat Kalitangi menjadi enggan untuk terlibat dalam
kesenian ini dan semakin lama muncul rasa malas. Pada akhirnya dibutuhkan sosok pemimpin
untuk dapat mengayomi perbedaan pandangan sehingga kelestarian Kesenian Balajad dapat
terjaga.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Subjects: | Humanities |
| Divisions: | Faculty of Humanities > Department of Social Anthroplogy |
| Depositing User: | Mr UPT Perpus Undip |
| Date Deposited: | 17 Mar 2025 10:31 |
| Last Modified: | 18 Mar 2025 03:38 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/29438 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
