Wiyanti, Zalsa Pramudya (2024) MUSIK SEBAGAI METODE KRITIK SOSIAL-POLITIK (ANALISIS PERLAWANAN DALAM TIGA LAGU IWAN FALS PADA MASA ORDE BARU). Undergraduate thesis, FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS DIPONEGORO.
|
Text
COVER - SKRIPSI ZALSA PRAMUDYA W..pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
|
|
Text
BAB 1 - SKRIPSI ZALSA PRAMUDYA W..pdf - Submitted Version Download (212kB) |
|
|
Text
BAB 2 - SKRIPSI ZALSA PRAMUDYA W..pdf - Submitted Version Download (261kB) |
|
|
Text
BAB 3 - SKRIPSI ZALSA PRAMUDYA W..pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (493kB) |
|
|
Text
BAB 4 - SKRIPSI ZALSA PRAMUDYA W..pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (127kB) |
|
|
Text
DAFTAR PUSTAKA - SKRIPSI ZALSA PRAMUDYA W..pdf - Submitted Version Download (260kB) |
|
|
Text
LAMPIRAN - SKRIPSI ZALSA PRAMUDYA W..pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (986kB) |
Abstract
Fenomena musik protes Iwan Fals sebagai perlawanan simbolik dan gerakan
sosial baru menarik untuk dikaji. Pembatasan kritik pada masa Orde Baru seperti
pembreidelan media, pembatasan ruang mahasiswa melalui NKK/BKK, hingga
larangan berkumpul mempersempit ruang bagi masyarakat sipil untuk mengkritik
pemerintah. Iwan Fals, sebagai musisi arus utama, gencar mengkritik Orde Baru
melalui lagu-lagu protesnya seperti “Tikus-Tikus Kantor” dan “Ambulans ZigZag.” Beberapa lagunya, seperti “Suara Buat Wakil Rakyat,” digunakan dalam
demonstrasi. Iwan Fals sering dicekal oleh rezim karena dianggap "berbahaya."
Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana ketiga lagu tersebut termasuk
dalam perlawanan simbolik dan apakah musik protes Iwan Fals masuk dalam
gerakan sosial baru. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif
dengan analisis semiotika Roland Barthes untuk mengungkap makna di balik tiga
lagu tersebut. Teori yang digunakan adalah teori perlawanan simbolik dari Scott
(1976) serta teori gerakan sosial baru dari Pichardo (1997) dan Singh (2001) dalam
Suharko (2006). Data diperoleh melalui wawancara dengan pengamat musik protes,
dosen sastra, dosen sejarah, dan dosen ilmu komunikasi serta studi pustaka. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa tiga lagu Iwan Fals yakni “Tikus-Tikus Kantor,”
“Ambulans Zig-Zag,” dan “Suara Buat Wakil Rakyat” merupakan bentuk
perlawanan simbolik. Iwan Fals, sebagai bagian dari kelompok subordinasi,
menggunakan musik sebagai medium perlawanan dengan simbol yang
merepresentasikan korupsi, kesenjangan sosial, dan sinisme terhadap absennya
peran DPR sebagai “wakil rakyat” namun musik tersebut tidak termasuk gerakan
sosial baru karena tidak melibatkan aksi kolektif. Penelitian ini mengundang
peneliti lain untuk memperdalam riset seputar musik, perlawanan simbolik, dan
gerakan sosial baru.
Kata Kunci: Musik Protes, Iwan Fals, Perlawanan Simbolik, Gerakan Sosial Baru
145 pem 2024
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Subjects: | Social Science and Political Science |
| Divisions: | Faculty of Social and Political Sciences > Department of Government Science |
| Depositing User: | diana nirwani |
| Date Deposited: | 04 Nov 2024 07:27 |
| Last Modified: | 04 Nov 2024 07:27 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/26960 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
