Hartomo, Hizkia Valentino (2026) ANALISIS WACANA KRITIS DALAM SINIAR LINTAS MAKNA EP. 62 - TOXIC MASCULINITY “PRIA JANGAN CENGENG!” BERDASARKAN MODEL NORMAN FAIRCLOUGH. Undergraduate thesis, Fakultas Ilmu Budaya.
|
Text
SI2549 Hizkia Valentino Hartomo_13010122130047_Revisi Terakhir OK _1.pdf Download (2MB) |
|
|
Text
SI2549 Hizkia Valentino Hartomo_13010122130047_Revisi Terakhir OK _2.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
SI2549 Hizkia Valentino Hartomo_13010122130047_Revisi Terakhir OK _3.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
SI2549 Hizkia Valentino Hartomo_13010122130047_Revisi Terakhir OK _4.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
SI2549 Hizkia Valentino Hartomo_13010122130047_Revisi Terakhir OK .pdf Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
Abstract
Hizkia Valentino Hartomo. 2026. " Analisis Wacana Kritis dalam Siniar Lintas
Makna Ep. 62 - Toxic Masculinity ‘Pria Jangan Cengeng!’ berdasarkan Model
Norman Fairclough". Skripsi, Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya,
Universitas Diponegoro. Dosen Pembimbing: Dr. Drs. Suharyo, M.Hum.
Penelitian ini mengkaji representasi dan praktik wacana mengenai maskulinitas toksik
dalam media baru, khususnya siniar (podcast). Objek material penelitian ini adalah
siniar Lintas Makna Episode 62 berjudul "Toxic Masculinity: Pria Jangan Cengeng!"
yang dipandu oleh Dimas Danang dan Sheryl Sheinafia. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis representasi linguistik maskulinitas toksik serta mengurai relasi
kuasa dan ideologi yang dinegosiasikan oleh pembawa acara menggunakan
pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) model tiga dimensi Norman Fairclough.
Penelitian deskriptif kualitatif ini menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis
(AWK) model tiga dimensi Norman Fairclough. Pengumpulan data menggunakan
metode simak dengan teknik rekam dan teknik catat berupa transkripsi ortografis.
Data dalam penelitian ini diposisikan mutlak sebagai data primer, yang terdiri dari
data tekstual (fragmen tuturan lisan) dan data resepsi (teks komentar audiens).
Analisis dilakukan menggunakan metode padan ekstralingual dengan teknik pilah
unsur penentu dan hubung banding membedakan. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pada dimensi tekstual (mikro), maskulinitas toksik direproduksi melalui
leksikon peyoratif ("cupu"), metafora militeristik ("garda depan"), dan struktur
agentless passive yang menyembunyikan agen penindas, sementara resistensi
diajukan melalui parodi kultur populer ("Goro"). Pada dimensi praktik wacana
(meso), wacana yang lahir sebagai respons krisis kesehatan mental pasca-pandemi ini
justru dikomodifikasi oleh media digital (woke-washing) dan difragmentasi untuk
mengeksploitasi trauma audiens demi metrik keterlibatan (engagement). Pada
dimensi praktik sosial (makro), dekonstruksi gender terbukti semu; wacana bermutasi
menjadi seksisme halus (benevolent sexism) di mana subjek berlindung di bawah
hegemoni rasionalitas. Kegagalan diskursif ini berakar dari residu ideologi
Bapakisme di Indonesia, yang pada realitas sosial ekstremnya justru bermanifestasi
menjadi represi fisik ruang publik seperti persekusi berbasis gender ("Boti Hunter").
Kata Kunci: Analisis Wacana Kritis, Maskulinitas Toksik, Siniar, Lintas Makna,
Norman Faircloug
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Analisis Wacana Kritis, Maskulinitas Toksik, Siniar, Lintas Makna, Norman Fairclough. |
| Subjects: | Humanities |
| Divisions: | Faculty of Humanities > Department of Indonesian Literature |
| Depositing User: | Mr Dwi Widaryanto FIB |
| Date Deposited: | 16 Sep 2026 06:45 |
| Last Modified: | 16 Sep 2026 06:45 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/61222 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
