Saputri, Devi Eka (2026) Negosiasi Batas, Kepercayaan, dan Kuasa: Kekerasan Simbolik dalam Toxic Relationship pada Pacaran Anak Muda di Kota Semarang. Undergraduate thesis, Fakultas Ilmu Budaya.
|
Text
SA683 Devi Eka Saputri 13040222140151 OK_1.pdf Download (3MB) |
|
|
Text
SA683 Devi Eka Saputri 13040222140151 OK_2.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
SA683 Devi Eka Saputri 13040222140151 OK_3.pdf Download (2MB) |
|
|
Text
SA683 Devi Eka Saputri 13040222140151 OK_4.pdf Download (3MB) |
|
|
Text
SA683 Devi Eka Saputri 13040222140151 OK.pdf Restricted to Repository staff only Download (4MB) |
Abstract
Toxic relationship dalam hubungan pacaran anak muda tidak hanya berkaitan
dengan konflik antar pasangan, tetapi juga dengan bagaimana kontrol, dominasi,
dan kekerasan dapat diterima sebagai bagian dari hubungan yang dianggap wajar.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana anak muda menegosiasikan
batas personal, kepercayaan, dan relasi kuasa dalam hubungan pacaran yang
bersifat toxic, serta melihat peran latar belakang budaya dan kebiasaan sosial dalam
membentuk cara mereka menjalani hubungan tersebut. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif etnografi dengan desain studi kasus. Kuesioner digunakan
sebagai alat bantu untuk menjaring dan menyaring calon informan, sedangkan data
utama diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap lima informan yang
memiliki pengalaman dalam hubungan pacaran yang mengandung unsur toxic.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa negosiasi dalam hubungan toxic berlangsung
secara dinamis dan tidak selalu berujung pada berakhirnya hubungan. Anak muda
berupaya menetapkan batas, mempertahankan kepercayaan, memberikan
kesempatan, memilih diam, melakukan perlawanan, maupun mempertimbangkan
untuk mengakhiri hubungan. Proses tersebut dipengaruhi oleh keterikatan
emosional, harapan terhadap perubahan pasangan, pengalaman sebelumnya, serta
nilai dan kebiasaan yang terbentuk dalam lingkungan sosial. Relasi kuasa juga
muncul melalui kontrol, tuntutan, manipulasi emosional, pengawasan, dan berbagai
bentuk perilaku yang sering kali dimaknai sebagai perhatian atau kasih sayang.
Pengalaman menjalani hubungan tersebut turut memengaruhi kondisi emosional,
tubuh, relasi sosial, serta cara informan memaknai dirinya. Penelitian ini
menunjukkan bahwa toxic relationship merupakan hubungan yang di dalamnya
terjadi proses tarik-menarik antara keinginan untuk mempertahankan hubungan dan
kebutuhan untuk melindungi diri, sehingga batas antara cinta, perhatian, kontrol,
dan kekerasan menjadi tidak selalu mudah dikenali.
Kata Kunci: Toxic Relationship, Relasi Kuasa, Kekerasan Simbolik, Negosiasi,
Anak Muda.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Toxic relationship dalam hubungan pacaran anak muda tidak hanya berkaitan dengan konflik antar pasangan, tetapi juga dengan bagaimana kontrol, dominasi, dan kekerasan dapat diterima sebagai bagian dari hubungan yang dianggap wajar. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana anak muda menegosiasikan batas personal, kepercayaan, dan relasi kuasa dalam hubungan pacaran yang bersifat toxic, serta melihat peran latar belakang budaya dan kebiasaan sosial dalam membentuk cara mereka menjalani hubungan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif etnografi dengan desain studi kasus. Kuesioner digunakan sebagai alat bantu untuk menjaring dan menyaring calon informan, sedangkan data utama diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap lima informan yang memiliki pengalaman dalam hubungan pacaran yang mengandung unsur toxic. Hasil penelitian menunjukkan bahwa negosiasi dalam hubungan toxic berlangsung secara dinamis dan tidak selalu berujung pada berakhirnya hubungan. Anak muda berupaya menetapkan batas, mempertahankan kepercayaan, memberikan kesempatan, memilih diam, melakukan perlawanan, maupun mempertimbangkan untuk mengakhiri hubungan. Proses tersebut dipengaruhi oleh keterikatan emosional, harapan terhadap perubahan pasangan, pengalaman sebelumnya, serta nilai dan kebiasaan yang terbentuk dalam lingkungan sosial. Relasi kuasa juga muncul melalui kontrol, tuntutan, manipulasi emosional, pengawasan, dan berbagai bentuk perilaku yang sering kali dimaknai sebagai perhatian atau kasih sayang. Pengalaman menjalani hubungan tersebut turut memengaruhi kondisi emosional, tubuh, relasi sosial, serta cara informan memaknai dirinya. Penelitian ini menunjukkan bahwa toxic relationship merupakan hubungan yang di dalamnya terjadi proses tarik-menarik antara keinginan untuk mempertahankan hubungan dan kebutuhan untuk melindungi diri, sehingga batas antara cinta, perhatian, kontrol, dan kekerasan menjadi tidak selalu mudah dikenali. Kata Kunci: Toxic Relationship, Relasi Kuasa, Kekerasan Simbolik, Negosiasi, Anak Muda. |
| Subjects: | Humanities |
| Divisions: | Faculty of Humanities > Department of Social Anthroplogy |
| Depositing User: | Mr Dwi Widaryanto FIB |
| Date Deposited: | 03 Sep 2026 05:25 |
| Last Modified: | 03 Sep 2026 05:25 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/60450 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
