Muttaqien, Rizal Arief and Nugroho, Eriawan Agung and Sitorus, Gina Yunita Joice (2026) PENGARUH EKSTRAK BUNGA CENGKEH (SYZYGIUM AROMATICUM) TERHADAP PENURUNAN KADAR IL-10, CRP, DAN TNF-α PADA LUKA TIKUS YANG TERINFEKSI MRSA (METHICILLIN-RESISTANT STAPHYLOCOCCUS AUREUS). Masters thesis, UNIVERSITAS DIPONEGORO.
|
Text (Rizal Arief Muttaqien - 22040123310002 - ABSTRAK)
Rizal Arief Muttaqien - 22040123310002 - ABSTRAK.docx Download (1MB) |
Abstract
Latar Belakang: Luka merupakan kerusakan jaringan yang proses penyembuhannya dapat terganggu oleh infeksi, termasuk yang disebabkan oleh Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA), yang resisten terhadap banyak antibiotik dan meningkatkan risiko morbiditas serta sepsis. Proses penyembuhan luka dipengaruhi oleh keseimbangan sitokin proinflamasi dan antiinflamasi: TNF-α dan CRP berperan dalam eliminasi patogen, tetapi kadar yang berlebihan dapat memperparah cedera jaringan, sedangkan IL-10 menekan peradangan berlebihan dan mempercepat regenerasi jaringan. Bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) mengandung eugenol, flavonoid, tanin, dan alkaloid yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap MRSA serta berpotensi memodulasi kadar IL-10, CRP, dan TNF-α, sehingga mendukung penyembuhan luka yang lebih optimal. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan pengaruh ekstrak bunga cengkeh terhadap kadar IL-10, CRP, dan TNF-α pada tikus yang terinfeksi MRSA.
Metode: Studi eksperimental dengan desain “kelompok kontrol hanya pasca-uji” dilakukan pada tikus yang diberi luka sayatan punggung. Alokasi acak dilakukan untuk membagi tikus Sprague Dawley menjadi 3 kelompok (masing-masing 5 ekor). Durasi penyembuhan dinilai berdasarkan kadar IL-10, CRP, dan TNF-α yang diukur dari darah vena menggunakan kit ELISA. Data dianalisis menggunakan One-Way ANOVA dengan uji Post Hoc.
Hasil: Pemberian ekstrak bunga cengkeh memiliki efek signifikan dalam menurunkan kadar IL-10, CRP, dan TNF-α pada tikus yang terinfeksi MRSA (p<0,05), dengan penurunan terbesar teramati pada dosis 100 mg/200 g berat badan, sebanding dengan kelompok kontrol positif (vankomisin). Penurunan kadar TNF-α dan CRP menunjukkan berkurangnya peradangan berlebihan dan kerusakan jaringan selama fase awal penyembuhan luka, sedangkan penurunan kadar IL-10 mencerminkan transisi menuju fase proliferatif dan remodeling. Efek-efek ini berasal dari komponen bioaktif bunga cengkeh, seperti eugenol, flavonoid, dan tanin, yang memberikan aktivitas antibakteri terhadap MRSA sekaligus menekan respons peradangan berlebihan melalui modulasi keseimbangan antara sitokin pro- dan anti-inflamasi, sehingga mempercepat penyembuhan luka.
Kesimpulan: Ekstrak bunga cengkeh memiliki potensi sebagai agen adjuvan alami dengan sifat antibakteri dan imunomodulator untuk mempercepat penyembuhan luka yang terinfeksi MRSA melalui penurunan kadar IL-10, CRP, dan TNF-α.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | durasi penyembuhan luka, IL-10, CRP, TNF-α, MRSA, Ekstrak Bunga Cengkeh (Syzygium aromaticum) |
| Subjects: | Medicine |
| Divisions: | Faculty of Medicine > Master Program of Specialist Medical |
| Depositing User: | Upload Mandiri FK |
| Date Deposited: | 02 Sep 2026 04:00 |
| Last Modified: | 02 Sep 2026 04:00 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/60196 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
