Priscagita, Berliana Bunga and Sulistyani, Hapsari Dwiningtyas (2026) MEMAHAMI PENGALAMAN MENGKOORDINASI PEMAKNAAN MENGENAI TRADISI MANDOK HATA PADA GENERASI Z SUKU BATAK PERANTAU DI KOTA SEMARANG. Masters thesis, Universitas Diponegoro Semarang.
|
Text
COVER 0.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (2MB) |
|
|
Text
BAB I.pdf - Published Version Download (1MB) |
|
|
Text
BAB II.pdf - Published Version Download (196kB) |
|
|
Text
BAB III.pdf - Published Version Download (262kB) |
|
|
Text
BAB IV.docx - Published Version Download (1MB) |
|
|
Text
BAB IV.pdf - Published Version Download (427kB) |
|
|
Text
BAB V.pdf - Published Version Download (108kB) |
|
|
Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version Download (114kB) |
|
|
Text
LAMPIRAN.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (442kB) |
Abstract
Penelitian ini mengkaji ketegangan dalam komunikasi antar generasi dalam tradisi lisan
Mandok Hata pada malam Tahun Baru. Permasalahan penelitian berfokus pada dinamika
perubahan makna tradisi bagi Suku Batak Generasi Z di Kota Semarang, proses koordinasi
makna dengan orang tua mereka, dan strategi mereka dalam menegosiasikan identitas budaya
di era digital. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk memahami pengalaman koordinasi
pemaknaan Generasi Z Suku Batak perantau di Kota Semarang dalam mengkoordinasikan,
menegosiasikan, dan mengadaptasi makna tradisi Mandok Hata di tengah dinamika keluarga,
perantauan, dan budaya digital. Dengan menggunakan paradigma interpretatif dan metode
kualitatif pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), penelitian ini
mengeksplorasi dunia subyektif sembilan informan, mahasiswa Suku Batak di Kota Semarang.
Landasan teoritis yang digunakan adalah Coordinated Management of Meaning (CMM) dan
Cultural Identity Theory (CIT).
Hasil penelitian ini mengungkapkan kesimpulan utama berupa kesenjangan argument
tradisi Mandok Hata, yang secara filosofis bertujuan untuk memperkuat hubungan, pada
kenyataannya dialami oleh Generasi Z sebagai kebutuhan adat yang berubah menjadi ruang
"penghakiman" sepihak dan memicu kecemasan performatif. Tema-tema yang muncul
(Emergent themes) dalam penelitian ini secara khusus menangkap bagaimana informan
mengoordinasikan makna dan melakukan tindakan komunikasi (tindakan bicara) untuk
beradaptasi di tengah situasi yang dipaksakan ini. Untuk menyelaraskan interaksi agar ucapan
mereka tetap dapat diterima oleh orang tua mereka, informan secara sadar menggunakan
strategi pengemasan pesan. Taktik ini diwujudkan dengan mengubah variasi bahasa sehari-hari
kasual/slang menjadi intonasi formal-sopan, menyaring isi percakapan agar terbatas pada halhal
normatif
yang
aman
untuk
melindungi
batasan
privasi
pribadi,
dan
mengadopsi
instrumen
kecerdasan
buatan
(ChatGPT)
sebagai
penyelamat
taktis
dalam
menyusun
kalimat
lisan.
Di
sisi
lain,
migrasi ke kota rantau menimbulkan jarak reflektif; Isolasi fisik memicu kerinduan
emosional (homesickness) yang mendorong interpretasi baru terhadap Mandok Hata sebagai
media berharga ikatan keluarga yang dipelihara melalui sinkronisasi media digital (panggilan
video). Studi ini menyimpulkan bahwa keinginan akan tradisi bergantung pada transisi menuju
model komunikasi keluarga yang lebih dialogis, inklusif, dan tidak menghakimi.
Kata kunci: Mandok Hata, Generasi Z, Koordinasi Makna, Tindakan Komunikasi
(Speech Act), Pengemasan Pesan.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | Social Science and Political Science |
| Divisions: | Faculty of Social and Political Sciences > Master Program in Communication Science |
| Depositing User: | Soleh MIKOM |
| Date Deposited: | 15 Jul 2026 01:51 |
| Last Modified: | 15 Jul 2026 01:51 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/56194 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
