Radja, Fredriek Hardeman Bangngu and Sunarto, Sunarto (2026) ANALISIS SEMIOTIKA VISUAL KONSEP DOUBLE DEVIANCE DALAM FILM DOKUMENTER Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso. Masters thesis, Universitas Diponegoro Semarang.
|
Text
Cover 0.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
|
|
Text
BAB I.pdf - Published Version Download (705kB) |
|
|
Text
BAB II.pdf - Published Version Download (629kB) |
|
|
Text
BAB III.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (4MB) |
|
|
Text
BAB IV.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (517kB) |
|
|
Text
BAB V.pdf - Published Version Download (327kB) |
|
|
Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version Download (298kB) |
|
|
Text
LAMPIRAN.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (11MB) |
Abstract
Penelitian ini menganalisis konstruksi visual konsep double deviance dalam film dokumenter Netflix Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso (2023) melalui kerangka Four Sites of Analysis Gillian Rose. Berlandaskan paradigma kritis dengan perspektif Cultural Studies, feminisme postmodern, dan kriminologi feminis khususnya konsep double deviance Lloyd dan Kennedy (1995) penelitian ini mengkaji bagaimana dokumenter secara aktif memproduksi penilaian sosial berbasis gender melalui praktik visual yang terstruktur. Dengan pendekatan kualitatif interpretatif, lima adegan dipilih secara purposive yang mewakili ruang hukum persidangan, ruang ilmiah-forensik, ruang institusional lapas, ruang personal diary, dan ruang publik digital. Pada site of the image, dominasi close-up dan medium close-up menempatkan wajah dan ekspresi Jessica Wongso sebagai objek pengamatan moral utama sementara tone warna netral, kamera statis, dan visualisasi sianida menaturalisasi kepastian forensik. Pada site of production, penggunaan arsip dari Kompas TV dan CNN Indonesia, pemilihan narasumber termasuk ahli toksikologi Budi Budiawan, serta keputusan editorial sutradara Rob Sixsmith dan Beach House Pictures menunjukkan bahwa makna dokumenter dibentuk melalui pilihan kuratorial yang disengaja. Pada site of audiencing, pengendalian emosi Jessica diposisikan sebagai penanda moral mengaktifkan gender performativity Butler sehingga menghasilkan tiga posisi pembacaan: dominant, negotiated, dan oppositional. Pada site of circulation, distribusi global Netflix dan penguatan algoritmik melalui TikTok, Instagram, dan YouTube termasuk podcast Close The Door dengan lebih dari delapan juta tayangan memperluas pembingkaian dokumenter ke ruang kontestasi publik digital yang terpolarisasi antara tagar #BebaskanJessica dan tuntutan hukuman yang lebih berat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa double deviance diproduksi secara sistematis melalui akumulasi strategi visual di keempat situs: Jessica Wongso dikonstruksi sekaligus sebagai terdakwa hukum (legal deviance) dan sebagai perempuan yang dihakimi karena gagal memenuhi feminitas normatif (gender deviance). Penelitian ini berkontribusi pada kajian semiotika visual dan studi media feminis dengan menunjukkan bagaimana dokumenter true crime streaming berpartisipasi dalam reproduksi makna gender dan tata kelola moral di era digital.
Kata kunci: Double Deviance, Semiotika Visual, Gillian Rose, Four Sites of Analysis, Film Dokumenter, Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso, Gender, Netflix, True Crime, Kriminologi Feminis.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | Social Science and Political Science |
| Divisions: | Faculty of Social and Political Sciences > Master Program in Communication Science |
| Depositing User: | Soleh MIKOM |
| Date Deposited: | 06 Jul 2026 01:12 |
| Last Modified: | 06 Jul 2026 01:12 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/55346 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
