Search for collections on Undip Repository

ZONA KRITIS DAN ZONA RUSAK PEMANFAATAN AIR TANAH KOTA SEMARANG BERDASARKAN PEMODELAN GEOSPASIAL

KURNIAWAN, Widya and Soeprobowati, Tri Retnaningsih and Fahrudin, Fahrudin (2026) ZONA KRITIS DAN ZONA RUSAK PEMANFAATAN AIR TANAH KOTA SEMARANG BERDASARKAN PEMODELAN GEOSPASIAL. Masters thesis, UNIVERSITAS DIPONEGORO.

[thumbnail of cover aja.pdf] Text
cover aja.pdf

Download (133kB)
[thumbnail of Cover lengkap.pdf] Text
Cover lengkap.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (887kB)
[thumbnail of Bab I.pdf] Text
Bab I.pdf

Download (1MB)
[thumbnail of Bab II.pdf] Text
Bab II.pdf

Download (1MB)
[thumbnail of Bab III.pdf] Text
Bab III.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
[thumbnail of Bab IV.pdf] Text
Bab IV.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
[thumbnail of Bab V.pdf] Text
Bab V.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (357kB)
[thumbnail of Daftar Pustaka.pdf] Text
Daftar Pustaka.pdf

Download (366kB)

Abstract

Pemanfaatan air tanah yang intensif di Kota Semarang akibat urbanisasi dan pertumbuhan industri telah memicu degradasi hidrogeologi, ditandai oleh penurunan muka air tanah, penurunan kualitas air, serta amblesan tanah. Zonasi konservasi air tanah tahun 2022 dinilai belum sepenuhnya merepresentasikan kondisi aktual, sehingga diperlukan pembaruan berbasis data terkini. Penelitian ini bertujuan untuk memperbarui zonasi pemanfaatan air tanah, menganalisis perubahan zona rusak, mengkaji hubungan penurunan muka air tanah dan amblesan tanah, serta merumuskan arahan kebijakan pengelolaan.
Pendekatan kuantitatif berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) digunakan dengan integrasi data muka air tanah, kualitas air tanah, dan penurunan muka tanah berbasis InSAR. Analisis dilakukan menggunakan metode pembobotan sesuai Permen ESDM No. 31 Tahun 2018 yang diperkuat dengan Analytical Hierarchy Process (AHP), serta proyeksi time-series hingga tahun 2030.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2025 luas zona rusak sebesar 21,70 km², zona kritis 48,24 km², dan zona rawan 77,91 km². Dibandingkan tahun 2022, terjadi penurunan zona rusak, namun disertai peningkatan zona kritis dan rawan yang mengindikasikan tekanan pemanfaatan air tanah masih berlangsung. Analisis menunjukkan adanya korelasi positif antara penurunan muka air tanah dan amblesan tanah. Proyeksi hingga tahun 2030 memperkirakan penurunan muka air tanah sebesar 51 cm dan amblesan tanah sebesar 74 cm.
Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa meskipun terjadi perbaikan parsial pada zona rusak, kondisi sistem air tanah secara umum masih mengalami tekanan, sehingga diperlukan pengendalian pemanfaatan berbasis zonasi, peningkatan pemantauan, serta kebijakan pengalihan sumber air untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air tanah.
Kata kunci: air tanah, zonasi, SIG, InSAR, amblesan tanah, proyeksi

Intensive groundwater extraction in Semarang City, driven by rapid urbanization and industrial growth, has accelerated hydrogeological degradation, including groundwater depletion, quality deterioration, and land subsidence. The 2022 groundwater conservation zoning is no longer fully representative of current conditions, necessitating an updated, data-driven evaluation. This study aims to refine groundwater utilization zoning through integrated geospatial modeling, quantify the interaction between groundwater decline and land subsidence, and provide evidence-based policy recommendations.
A quantitative GIS-based framework was developed by integrating groundwater level trends, groundwater quality indicators, and land subsidence data derived from InSAR. A multi-criteria evaluation approach was applied using weighted parameters based on the Minister of Energy and Mineral Resources Regulation No. 31 of 2018, enhanced with the Analytical Hierarchy Process (AHP) to improve decision consistency. Temporal dynamics were further assessed באמצעות time-series projections to 2030.
The updated 2025 zoning reveals a damaged zone of 21.70 km², alongside expanded critical (48.24 km²) and vulnerable zones (77.91 km²). While the damaged zone shows a marginal reduction compared to 2022, the spatial transition toward critical conditions indicates intensifying system stress. Statistical analysis confirms a positive correlation between groundwater decline and land subsidence. Projections estimate a further groundwater decline of 51 cm and subsidence of 74 cm by 2030.
These findings demonstrate the necessity of adaptive, zoning-based groundwater governance supported by continuous geospatial monitoring and demand-side management strategies.
Keywords: groundwater, geospatial modeling, zoning, InSAR, land subsidence, projection

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: air tanah, zonasi, SIG, InSAR, amblesan tanah, proyeksi
Subjects: Sciences and Mathemathic
Engineering > Urban and Regional Planning
Divisions: Postgraduate Program > Master Program in Environmental Science
Depositing User: ekana listianawati
Date Deposited: 01 Jul 2026 04:04
Last Modified: 01 Jul 2026 04:04
URI: https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/55333

Actions (login required)

View Item View Item