Griselda, Alifah Nadine and Yuwono, Teguh (2026) DAMPAK REVITALISASI KOTA LAMA SEMARANG SEBAGAI DESTINASI WISATA HERITAGE : PERSPEKTIF KEBIJAKAN KONSERVASI. Undergraduate thesis, FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS DIPONEGORO.
|
Text
Alifah Nadine Griselda _14010122140144 _Cover.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (675kB) |
|
|
Text
Alifah Nadine Griselda _14010122140144 _BAB 1.pdf - Submitted Version Download (934kB) |
|
|
Text
Alifah Nadine Griselda _14010122140144 _BAB 3.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (625kB) |
|
|
Text
Alifah Nadine Griselda _14010122140144 _BAB 2.pdf - Submitted Version Download (622kB) |
|
|
Text
Alifah Nadine Griselda _14010122140144 _BAB 4.pdf - Submitted Version Download (204kB) |
|
|
Text
Alifah Nadine Griselda _14010122140144 _Dafpus.pdf - Submitted Version Download (275kB) |
|
|
Text
Alifah Nadine Griselda _14010122140144 _Lampiran.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
Abstract
Revitalisasi Kawasan Kota Lama Semarang sebagai destinasi wisata heritage
menghadapi dilema antara pelestarian warisan budaya kolonial Belanda dengan arsitektur
bergaya Nieuwe Bouwen dan Indo-Eropa yang autentik dan pemanfaatan ekonomi di
tengah urbanisasi masif serta ancaman lingkungan seperti banjir rob dan penurunan tanah,
sebagaimana diatur dalam UU No. 11/2010 tentang Cagar Budaya serta Perda Kota
Semarang No. 2/2020. Penelitian ini difokuskan pada Kota Lama Semarang dibandingkan
Kota Serupa yaitu contohnya di Kota Tua Jakarta, Kota Lama Surabaya dan Kota Tua
Padang karena keunikan konteksnya sebagai kota pelabuhan strategis di Jawa Tengah
yang mengalami degradasi fisik lebih parah, infrastruktur drainase buruk, dan urgensi
revitalisasi terkini melalui Badan Pengelola Situs Kota Lama (BPSKL), berbeda dengan
Kota Tua Jakarta yang telah mapan sebagai kawasan UNESCO World Heritage dengan
pariwisata komersial matang sejak lama. Daya tarik penelitian ini terletak pada analisis
implementasi kebijakan konservasi menggunakan model Edward III (komunikasi,
sumber daya, disposisi, struktur birokrasi), metodologi deskriptif kualitatif dengan
wawancara mendalam kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, BPSKL, pelaku usaha,
observasi partisipatif, serta triangulasi data sekunder dari laporan revitalisasi urban
heritage.
Hasil penelitian menunjukkan implementasi kebijakan konservasi berjalan cukup
baik dengan komunikasi antar-stakeholder yang terkoordinasi, meski terhambat oleh
keterbatasan anggaran, koordinasi birokrasi lintas-instansi, dan rendahnya kesadaran
masyarakat lokal. Revitalisasi berhasil meningkatkan kunjungan wisatawan 20-30% per
tahun, mendorong ekonomi kreatif melalui adaptive reuse bangunan heritage menjadi
kafe seni, galeri, dan workshop budaya, tetapi juga memunculkan dampak negatif berupa
gentrifikasi yang menggusur pedagang tradisional, overtourism pada akhir pekan, serta
risiko erosi autentisitas arsitektur akibat modifikasi komersial berlebihan. Kesimpulan
merekomendasikan penguatan peran BPSKL dan DISBUDPAR melalui insentif fiskal
untuk adaptive reuse berkelanjutan, partisipasi multistakeholder yang inklusif, dan sistem
monitoring berbasis Outstanding Universal Value (OUV) UNESCO untuk mencapai
keseimbangan optimal antara pelestarian nilai historis dan pemanfaatan ekonomi jangka
panjang.
Kata kunci: Revitalisasi Kota Lama Semarang, Wisata Heritage, Kebijakan Konservasi,
Implementasi Kebijakan Edward III, Pelestarian Cagar Budaya
82 Ilmu Pemerintahan 2026
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Subjects: | Social Science and Political Science |
| Divisions: | Faculty of Social and Political Sciences > Department of Government Science |
| Depositing User: | diana nirwani |
| Date Deposited: | 10 Apr 2026 04:24 |
| Last Modified: | 10 Apr 2026 04:24 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/48886 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
