Muliawan, Bella (2024) TITIK TEMU DAN TITIK PISAH PAHAM-PAHAM KEAGAMAAN STUDI KASUS MASYARAKAT KRANGGAN, AMBARAWA. Undergraduate thesis, Faculty of Humanity.
|
Text
SKRIPSI FINAL_BELLA MULIAWAN.pdf Restricted to Repository staff only Download (3MB) |
Abstract
Konflik berlatar belakang agama di Indonesia masih sering terjadi, padahal
religiusitas menurut masyarakat adalah bagian penting dalam kehidupan mereka.
Agama menjadi sebuah nilai yang berpengaruh pada hubungan di antara manusia.
Selain mengatur peribadatan, agama juga mengatur bagaimana menjalin hubungan
baik di antara masyarakat. Sikap inklusif dalam masyarakat, yang menganggap
ajaran agama orang lain juga memiliki kebenaran, harus dipahami sebagai upaya
untuk mengurangi konflik beragama. Sikap inklusif ini juga mencegah sikap
eksklusivitas yang menganggap agama kita yang paling benar dan agama orang
lain salah sehingga merasa perlu untuk "ditaubatkan". Penelitian ini dilakukan di
Kelurahan Kranggan, Kecamatan Ambarawa dengan metode kualitatif deskriptif.
Penentuan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling, melibatkan
warga perwakilan umat beragama, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh
pemerintah di Kelurahan Kranggan. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengungkap proses terbentuknya kerukunan umat beragama, bentuk-bentuk
kerukunan, dan penyebabnya, yang dikaji dengan teori solidaritas sosial Emile
Durkheim.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ajaran agama dari kitab suci
mengajarkan umatnya untuk saling menjaga kerukunan di antara umat lain. Selain
itu, penguatan agama sejak kecil melalui didikan keluarga dan tokoh agama
masing-masing menjadi cara masyarakat menciptakan keteguhan iman. Dengan
demikian, ketika bertemu dalam forum masyarakat yang memiliki beragam
agama, iman kita tidak goyah. Pemahaman yang baik terhadap ajaran agama
tercermin dalam dimensi sosiologis, berupa tradisi Jawa dan kegiatan peringatan
hari besar agama yang diikuti oleh berbagai umat beragama di Kranggan. Tradisi
seperti sonjo, nyadran, silaturahmi, dan peringatan hari besar agama turut
memperkuat kerukunan. Penyebab terbentuknya kerukunan adalah pemaknaan
terhadap nilai solidaritas sosial, yang terdiri dari kesadaran kolektif yang menekan
individu untuk berperilaku sesuai nilai dan norma yang berlaku. Selain itu, peran
tokoh agama dan tokoh masyarakat, seperti pemerintah Kelurahan Kranggan,
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Semarang, dan
Paguyuban Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kecamatan Ambarawa, melalui
program-program seperti seminar dan diskusi lintas agama, turut menjadi
penyebab terbentuknya kerukunan umat beragama.
Kata Kunci: kerukunan umat beragama, konflik agama, solidaritas sosial, umat
beragama
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Subjects: | Humanities |
| Divisions: | Faculty of Humanities > Department of Social Anthroplogy |
| Depositing User: | Tugirin |
| Date Deposited: | 11 Feb 2026 03:03 |
| Last Modified: | 11 Feb 2026 03:03 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/45002 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
