FAISAL, NISWA IDZAKIYA and Boedi, Rizky Merdietio and Vidyahayati, Indah Lestari (2025) EVALUASI PENYEBAB KEMATIAN PADA KASUS FILISIDA MELALUI VISUM ET REPERTUM DI PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG. Undergraduate thesis, Universitas Diponegoro.
|
Text (ABSTRAK - KTI)
NISWA IDZAKIYA FAISAL - 22010222130007 - KTI - ABSTRAK.pdf Download (112kB) |
Abstract
Latar Belakang: Filisida di Indonesia sebagian besar melibatkan ibu dengan kehamilan tidak diinginkan. Kendala akses layanan kesehatan reproduksi serta stigma sosial yang kuat terhadap kehamilan di luar nikah berkontribusi pada tingginya risiko kasus tidak terlaporkan. Pemeriksaan forensik, khususnya visum et repertum, merupakan elemen utama dalam pembuktian mekanisme kekerasan, namun autopsi yang seharusnya menjadi prosedur baku belum dilakukan secara konsisten. Tujuan: Menganalisis pola penyebab kematian, distribusi cedera, serta kontribusi visum et repertum dalam proses pembuktian hukum pada kasus filisida yang diputus Mahkamah Agung. Metode: Penelitian ini merupakan studi dokumen melalui telaah terhadap 43 putusan Mahkamah Agung Indonesia terkait filisida. Data yang dianalisis meliputi karakteristik pelaku dan korban, penyebab kematian, temuan trauma, serta penerapan pasal hukum. Hasil: Pelaku didominasi perempuan (93,6%), dengan usia rata-rata 25,4 ± 7,8 tahun dan mayoritas belum menikah. Hampir seluruh korban adalah bayi baru lahir (95,7%) dan motif terbanyak adalah anak tidak diinginkan (89,3%). Penyebab kematian terbanyak adalah asfiksia (32%), disusul eksanguinasi (13%), dan trauma tumpul (11%). Mayoritas trauma ditemukan pada area maksilofasial (33%) dan servikal (25%), yang diidentifikasi melalui pemeriksaan luar. Namun, autopsi hanya dilakukan pada sepertiga kasus, sehingga potensi cedera internal terlewatkan masih tinggi. Sebagian besar putusan mendasarkan pemidanaan pada Pasal 341 KUHP (74,5%) dan Pasal 342 KUHP (23,4%). Kesimpulan: Filisida di Indonesia berkaitan kuat dengan kerentanan sosial ibu pasca persalinan, terutama pada kehamilan tidak diinginkan. Ketergantungan pada pemeriksaan luar tanpa autopsi meningkatkan risiko kesalahan interpretasi penyebab kematian. Standarisasi pemeriksaan forensik melalui autopsi wajib pada kematian neonatal sangat diperlukan untuk memastikan akurasi diagnosis dan keadilan proses hukum.
Kata kunci: filisida, visum et repertum, trauma maksilofasial, Mahkamah Agung
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | filisida, visum et repertum, trauma maksilofasial, Mahkamah Agung |
| Subjects: | Medicine |
| Divisions: | Faculty of Medicine > Department of Dentistry |
| Depositing User: | Upload Mandiri FK |
| Date Deposited: | 19 Dec 2025 07:28 |
| Last Modified: | 19 Dec 2025 07:28 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/42343 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
