Search for collections on Undip Repository

HUBUNGAN NILAI DENSITAS DAN VOLUME KELENJAR PAROTIS PADA PEMERIKSAAN CT SCAN DENGAN SKOR XEROSTOMIA GRONINGEN RADIOTHERAPY-INDUCED XEROSTOMIA QUESTIONNAIRE (GRIX) PADA PASIEN KANKER NASOFARING YANG MENDAPAT TERAPI RADIASI

Radam, Widya Pratiwi and Prihharsanti, Nawangsih and Wahyuni, Frederica Mardiana (2025) HUBUNGAN NILAI DENSITAS DAN VOLUME KELENJAR PAROTIS PADA PEMERIKSAAN CT SCAN DENGAN SKOR XEROSTOMIA GRONINGEN RADIOTHERAPY-INDUCED XEROSTOMIA QUESTIONNAIRE (GRIX) PADA PASIEN KANKER NASOFARING YANG MENDAPAT TERAPI RADIASI. Masters thesis, UNIVERSITAS DIPONEGORO.

[thumbnail of ABSTRAK] Text (ABSTRAK)
ABSTRAK TESIS.pdf

Download (72kB)

Abstract

Latar Belakang: Xerostomia merupakan salah satu efek samping radioterapi yang paling sering terjadi pada pasien kanker nasofaring, akibat kerusakan pada kelenjar saliva, terutama kelenjar parotis. Kehilangan fungsi optimal pada kelenjar saliva dapat berkontribusi terhadap penurunan kualitas hidup penderita. Evaluasi objektif pada perubahan morfologi kelenjar parotis pasca-radioterapi dapat dilakukan menggunakan modalitas CT scan, dengan parameter densitas dan volume. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan volume dan densitas kelenjar parotis sebelum dan sesudah radioterapi, serta mengevaluasi korelasinya dengan skor xerostomia berdasarkan kuisioner GRIX.
Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain cross sectional, yang dilakukan pada 35 pasien kanker nasofaring di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Semua pasien dalam penelitian menerima terapi radiasi eksternal sebesar 70 Gy, dengan pencitraan CT dilakukan baik sebelum terapi maupun sekurang-kurangnya tiga hingga dua belas bulan setelahnya. Volume dan densitas kelenjar parotis kanan dan kiri diukur melalui analisis CT scan, sementara skor xerostomia diperoleh dari wawancara langsung menggunakan kuisioner GRIX. Uji statistik yang digunakan meliputi Wilcoxon Signed-Rank Test, Paired t-test, dan Korelasi Spearman’s Rank, dengan taraf signifikansi p < 0,05.
Hasil: Dalam penelitian ini ditemukan bahwa terjadi penurunan volume kelenjar parotis kanan dan kiri secara signifikan setelah radioterapi, dengan penurunan masing-masing sebesar 26,5% dan 26,6% (p = 0,000). Selain itu, terjadi pula peningkatan densitas yang bermakna, yaitu sebesar 80,8% pada sisi kanan dan 109,4% pada sisi kiri (p = 0,000). Meskipun terjadi perubahan volume dan densitas pada kelenjar parotis kanan dan kiri, analisis statistik tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua sisi (p > 0,05). Selain itu, hasil uji korelasi antara perubahan morfologi kelenjar parotis (baik volume maupun densitas) dengan skor xerostomia juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik (p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa perubahan citra radiologis kelenjar belum tentu sejalan dengan tingkat keparahan xerostomia yang dialami pasien.
Kesimpulan: Radioterapi pada pasien kanker nasofaring menyebabkan perubahan morfologis signifikan pada kelenjar parotis, berupa penurunan volume dan peningkatan densitas. Namun, perubahan tersebut tidak berkorelasi langsung secara statistik dengan derajat xerostomia berdasarkan skor GRIX. Dalam menilai atau mengevaluasi xerostomia pasca-radioterapi, perlu dipertimbangkan pendekatan multi-aspek yang meliputi cakupan paparan radiasi, fungsi kelenjar saliva selain parotis, serta kombinasi instrumen penilaian yang bersifat klinis dan kuantitatif
Kata kunci: kanker nasofaring, radioterapi, xerostomia, kelenjar parotis, CT scan, volume, densitas, GRIX.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Kata kunci: kanker nasofaring, radioterapi, xerostomia, kelenjar parotis, CT scan, volume, densitas, GRIX.
Subjects: Medicine
Divisions: Faculty of Medicine > Master Program of Specialist Medical
Depositing User: Upload Mandiri FK
Date Deposited: 02 Jul 2025 03:40
Last Modified: 02 Jul 2025 03:40
URI: https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/33940

Actions (login required)

View Item View Item