Pratiwi, Silvi and Suyanto, Suyanto (2022) MAKNA BUDAYA TRADISI MERTI DUSUN DI DUSUN BUNGAS DESA KADIREJO KABUPATEN SEMARANG. Undergraduate thesis, FAKULTAS ILMU BUDAYA.
|
Text
SILVI PRATIWI 13040218130049.pdf Restricted to Repository staff only Download (4MB) |
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosesi tradisi Merti Dusun yang
berlokasi di Dusun Bungas Desa Kadirejo Kabupaten Semarang secara mendalam,
memahami makna budaya di dalam rangkaian prosesi tradisi Merti Dusun, serta
menjelaskan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam tradisi Merti Dusun. Teori
yang digunakan sebagai landasan pemikiran penelitian ini adalah teori sistem ritus
oleh Koentjaraningrat dan teori interpretivisme simbolik oleh Clifford Geertz yang
didukung dengan teori-teori antropologi lain, seperti fenomenologi transendental
(komunikasi transendental) oleh Edmund Husserl dan teori nilai budaya oleh
Kluckhohn. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu etnografi. Teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu dengan observasi
partisipasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Dalam mengumpulkan
informasi dan data yang terkait, peneliti melakukan wawancara mendalam kepada
ketua adat Dusun Bungas yang berperan penting dalam prosesi tradisi Merti Dusun,
Kepala Dusun Bungas, tokoh sesepuh dusun, dan beberapa di antaranya masyarakat
Dusun Bungas. Jenis sumber data merupakan data emik yang menghasilkan kajian
makna budaya untuk mendeskripsikan makna simbol di dalam rangkaian tradisi
Merti Dusun. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Dusun
Bungas adalah masyarakat yang masih aktif melaksanakan tradisi Merti Dusun
yang dianggap sebagai tradisi sedekah bumi masyarakat petani Jawa. Tradisi Merti
Dusun merupakan titah dari nenek moyang atau leluhur yang menjadi simbol
pembersihan diri dan lingkungan juga sebagai sarana bersedekah terhadap sesama
yang memperkuat nilai-nilai kebudayaan yang ada sejak jaman nenek moyang.
Prosesi tradisi Merti Dusun dilaksanakan pada Jumat Legi dan Rabu Legi menurut
penanggalan Jawa sekitar bulan Agustus – September dengan rangkaian prosesi,
yakni (1) bebersih dusun; (2) ritual nawu sendang; (3) gogoh lélé; (4) penyiapan
ubo rampe dan peletakkan sesaji; (5) bocahan; (6) kenduri/slametan; (7) wayangan
dan klonéngan. Secara emik, masyarakat Dusun Bungas menginterpretasikan
tradisi Merti Dusun sebagai suatu aturan yang sudah melekat sejak jaman pra-Islam,
membersihkan kotoran dalam diri, juga sebagai sebuah sarana hiburan untuk
masyarakat petani Jawa yang sudah bekerja keras selama satu musim hingga panen
raya. Secara etik tradisi Merti Dusun di Dusun Bungas mengandung animisme,
sinkretisme, dan solidaritas. Dalam tradisi Merti Dusun juga terkandung nilai-nilai
budaya seperti rasa syukur, keseimbangan dengan alam, dan kerukunan.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Subjects: | Humanities |
| Divisions: | Faculty of Humanities > Department of Social Anthroplogy |
| Depositing User: | Mr UPT Perpus Undip |
| Date Deposited: | 16 Jun 2025 23:12 |
| Last Modified: | 16 Jun 2025 23:12 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/32382 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
