KRISTANTI, DWI and Dwimawanti, Ida Hayu and Yuwono, Teguh (2026) TATA KELOLA KOLABORATIF BERKELANJUTAN DI DESA WISATA NGLANGGERAN, GUNUNGKIDUL (1999–2025). Doctoral thesis, UNIVERSITAS DIPONEGORO FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK.
|
Text
Cover_Dwi Kristanti.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (714kB) |
|
|
Text
Bab 1_Dwi Kristanti.pdf - Submitted Version Download (762kB) |
|
|
Text
Bab 2_Dwi Kristanti.pdf - Submitted Version Download (840kB) |
|
|
Text
Bab 3_Dwi Kristanti.pdf - Submitted Version Download (319kB) |
|
|
Text
Bab 4_Dwi Kristanti.pdf - Submitted Version Download (481kB) |
|
|
Text
Bab 5_Dwi Kristanti.pdf - Submitted Version Download (3MB) |
|
|
Text
Bab 6_Dwi Kristanti.pdf - Submitted Version Download (227kB) |
|
|
Text
Dafpus_Dwi Kristanti.pdf - Submitted Version Download (286kB) |
|
|
Text
Lampiran_Dwi Kristanti.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
Abstract
Desa wisata di Indonesia bertambah pesat, tetapi sebagian besar berhenti pada tahap
rintisan dan hanya sedikit yang bertahan melintasi dekade. Penelitian ini
menganalisis proses transformasi tata kelola kolaboratif berkelanjutan di Desa
Wisata Nglanggeran sepanjang 1999–2025, yang berangkat dari krisis lingkungan
akhir 1990-an berupa kegersangan kawasan bekas penambangan dan kelangkaan
air, mengidentifikasi faktor kunci keberhasilannya, serta menyusun model tata
kelola berdasarkan transformasi tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan
kualitatif dengan studi kasus tunggal dan penelusuran proses dua varian, yaitu
eksplanasi-hasil dan pembangunan teori. Kerangka kerja integratif Emerson,
Nabatchi, dan Balogh dipakai sebagai lensa analitis; pembagian fase transformasi
merupakan temuan penelitian. Data dihimpun melalui wawancara mendalam
dengan 14 informan kunci, observasi partisipatif, diskusi kelompok terfokus, dan
telaah dokumen, lalu diuji dengan empat tes Bayesian serta triangulasi. Hasil
penelitian menunjukkan transformasi berlangsung dalam empat fase, yaitu inisiasi,
ekspansi dan profesionalisasi, konsolidasi kualitas, serta resiliensi dan inovasi.
Delapan faktor kunci keberhasilan teridentifikasi: kepemimpinan pelayan kolektif,
pelembagaan adaptif, kepercayaan berbasis bukti kinerja, musyawarah berlapis,
konsistensi visi, kapasitas finansial cadangan, regenerasi terstruktur, dan tumpang
sari mata pencaharian. Kepadatan keterkaitan kedelapan faktor membawa rezim
melampaui kolaborasi situasional menuju pola yang mendekati koalisi (shared
governance); pola tersebut diajukan sebagai temuan konseptual empiris dan bentuk
pelembagaan lanjut dari kolaborasi, bukan sebagai teori baru. Penelitian
menghasilkan dua model, yaitu model eksisting yang menggambarkan tata kelola
aktual serta model rekomendasi bernama Model Tata Kelola Tumpang Sari yang
memuat lima prinsip fondasi, lima mekanisme, siklus spiral empat tahap, dan enam
proposisi teoretis. Penelitian menyimpulkan bahwa keberlanjutan tata kelola
kolaboratif akar rumput terbentuk melalui pelembagaan yang mengikuti praktik
serta berputar sebagai spiral menaik, bukan siklus yang datar. Saran penelitian
mencakup pengujian keenam proposisi pada desa wisata lain dan penelitian
longitudinal lanjutan pasca tahun 2025.
Kata kunci: tata kelola kolaboratif, desa wisata, penelusuran proses, kearifan lokal,
koalisi (shared governance)
| Item Type: | Thesis (Doctoral) |
|---|---|
| Subjects: | Social Science and Political Science |
| Divisions: | Faculty of Social and Political Sciences > Doctor Program in Public Administration |
| Depositing User: | diana nirwani |
| Date Deposited: | 19 Oct 2026 03:49 |
| Last Modified: | 19 Oct 2026 03:49 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/63334 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
