FAIZAH, SALMA NUR (2023) PENGARUH EKSTRAK KASAR BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi, Linn.) SEBAGAI MEDIA PERENDAMAN TERHADAP DAYA TETAS TELUR LELE (Clarias gariepinus) (23da564). Undergraduate thesis, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
|
Text
Salma Nur Faizah 23da564 FULL.pdf Restricted to Repository staff only Download (15MB) |
Abstract
Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi, Linn.) merupakan salah satu tanaman
yang dapat dijadikan sebagai pangan fungsional karena belimbing wuluh biasa
digunakan sebagai obat dan bahan pangan. Ekstrak kasar buah belimbing wuluh
memiliki kandungan senyawa aktif, diantaranya tanin dan flavonoid yang dapat
meningkatkan daya tetas telur lele. Senyawa tanin dan flavonoid yang ada pada
ekstrak kasar buah belimbing wuluh berperan sebagai anti jamur. Penetasan telur
lele dapat terganggu karena adanya jamur yang menyerang telur lele. Tujuan dari
penelitian ini yaitu untuk mengkaji pengaruh dan menentukan dosis terbaik eksrak
kasar buah belimbing wuluh sebagai media perendaman terhadap daya tetas telur
lele. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli selama 7 hari. Penelitian ini
menggunakan metode eksperimental dan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri atas
4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan yang diterapkan pada penelitian ini yaitu
dosis ekstrak belimbing wuluh 0,0 ml/L (A), 3,5 ml/L (B), 4,0 ml/L (C) dan 4,5
ml/L (D). Variabel yang diamati pada penelitian ini yaitu perkembangan embrio
dan lama waktu penetasan telur, daya tetas telur, prevalensi telur terinfeksi jamur
dan kualitas air. Data daya tetas dan prevalensi telur terinfeksi jamur dianalisis
menggunakan uji ANOVA, sedangkan data pengamatan perkembangan embrio dan
lama waktu penetasan telur serta kualitas air dianalisis secara deskriptif. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak kasar buah belimbing wuluh sebagai
media perendaman telur lele berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap daya tetas telur,
dan prevalensi telur terinfeksi jamur. Ekstrak kasar buah belimbing wuluh juga
berpengaruh terhadap perkembangan embrio dan lama waktu penetasan telur.
Perlakuan C memberikan nilai terbaik pada daya tetas telur sebesar 95,00±1,00%
dan prevalensi telur terinfeksi jamur sebesar 3,00±1,00%. Perlakuan C dan D
memberikan hasil terbaik pada perkembangan embrio dan lama waktu penetasan
telur dibandingkan dengan perlakuan A dan B. Kualitas air pada semua perlakuan
menunjukkan bahwa nilai suhu, pH dan DO berada pada kisaran yang layak untuk
penetasan telur lele.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Averrhoa, Clarias, ekstrak, flavonoid, tanin |
| Subjects: | Fisheries And Marine Sciences |
| Divisions: | Faculty of Fisheries and Marine Sciences > Department of Aquaculture |
| Depositing User: | pancasila wati |
| Date Deposited: | 17 Sep 2026 08:00 |
| Last Modified: | 17 Sep 2026 08:00 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/61367 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
