Argowibowo, Keisha Zialalita Sapthina and Windiani, Reni (2026) EFEKTIVITAS KONVENSI BASEL SEBAGAI REZIM INTERNASIONAL DALAM KASUS PERPINDAHAN LIMBAH OLEH KANADA KE FILIPINA PADA TAHUN 2013-2019. Undergraduate thesis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro.
|
Text
Keisha Zialalita Sapthina Argowibowo_14050122140112_Cover.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (948kB) |
|
|
Text
Keisha Zialalita Sapthina Argowibowo_14050122140112_BAB 1.pdf - Submitted Version Download (356kB) |
|
|
Text
Keisha Zialalita Sapthina Argowibowo_14050122140112_BAB 2.pdf - Submitted Version Download (299kB) |
|
|
Text
Keisha Zialalita Sapthina Argowibowo_14050122140112_BAB 3.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (280kB) |
|
|
Text
Keisha Zialalita Sapthina Argowibowo_14050122140112_BAB 4.pdf - Submitted Version Download (146kB) |
|
|
Text
Keisha Zialalita Sapthina Argowibowo_14050122140112_Daftar Pustaka.pdf - Submitted Version Download (109kB) |
Abstract
Perpindahan lintas batas limbah berbahaya dari negara maju ke negara
berkembang merupakan persoalan lingkungan global yang persisten. Konvensi
Basel, yang telah diratifikasi oleh 191 negara, menjadi instrumen hukum
internasional utama dalam mengatur perpindahan tersebut. Namun, kasus
sengketa limbah Kanada–Filipina tahun 2013–2019, ketika 103 kontainer sampah
rumah tangga berlabel palsu tidak dipulangkan selama lebih dari enam tahun,
mengungkap ketidakmampuan rezim dalam memaksakan kepatuhan. Penelitian
ini menjawab pertanyaan mengapa Konvensi Basel belum efektif sebagai rezim
internasional lingkungan dalam menangani perpindahan limbah berbahaya
Kanada ke Filipina.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus.
Kerangka efektivitas rezim Arild Underdal (1992) digunakan sebagai alat analisis
utama, meliputi dua standar evaluasi, yaitu relative improvement dan collective
optimum, serta analisis kausal melalui konsep problem malignancy dan
problem-solving capacity. Analisis tersebut dilengkapi model manajerial
kepatuhan Chayes dan Chayes (1993) untuk menguji karakter ketidakpatuhan
Kanada.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Konvensi Basel gagal menghasilkan
perbaikan relatif yang signifikan maupun capaian yang mendekati collective
optimum dalam kasus ini. Kegagalan tersebut disebabkan oleh tingginya problem
malignancy yang ditandai tiga asimetri simultan, yakni kepentingan ekonomi,
informasi, dan kekuasaan, yang melampaui problem-solving capacity rezim.
Pengujian terhadap model manajerial menunjukkan bahwa ketidakpatuhan
Kanada bersifat disengaja dan strategis, bukan ketidakpatuhan non-sengaja yang
dapat diatasi melalui fasilitasi, sehingga desain Konvensi Basel yang bercorak
manajerial menjadi tidak sepadan dengan sifat masalahnya.
Penelitian ini merekomendasikan penguatan kewenangan Compliance
Committee, pembentukan forum penyelesaian sengketa yang mengikat, serta
penerapan sistem verifikasi pra-pengiriman yang independen guna menutup celah
struktural dalam desain rezim.
Kata Kunci: Konvensi Basel; Efektivitas Rezim; Kepatuhan; Problem
Malignancy; Problem-solving Capacity; Perpindahan Limbah Berbahaya
132 Hubungan Internasional 2026
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Subjects: | Social Science and Political Science |
| Divisions: | Faculty of Social and Political Sciences > Department of International Relations |
| Depositing User: | diana nirwani |
| Date Deposited: | 01 Sep 2026 04:42 |
| Last Modified: | 01 Sep 2026 06:22 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/60326 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
