Anggraini, Nadya Dwi (2026) LEGENDA TUJUH KEPALA KELUARGA KAMPUNG PITU (STUDI KASUS PADA KAMPUNG PITU, KALURAHAN NGLANGGERAN, KAPANEWON PATUK, KABUPATEN GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA). Undergraduate thesis, Fakultas Ilmu Budaya.
|
Text
SA666 Nadya Dwi Anggraini-13040219140135 OK_1.pdf Download (2MB) |
|
|
Text
SA666 Nadya Dwi Anggraini-13040219140135 OK_2.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
SA666 Nadya Dwi Anggraini-13040219140135 OK_3.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
SA666 Nadya Dwi Anggraini-13040219140135 OK_4.pdf Download (2MB) |
|
|
Text
SA666 Nadya Dwi Anggraini-13040219140135 OK.pdf Restricted to Repository staff only Download (3MB) |
Abstract
Legenda Tujuh Kepala Keluarga Kampung Pitu (Studi Kasus Etnografis pada
Kampung Pitu, Kalurahan Nglanggeran, Kapanewon Patuk, Kabupaten
Gunungkidul, Yogyakarta) merupakan penelitian yang mengkaji folklor lisan
masyarakat Kampung Pitu yang dijadikan sebagai dasar tatanan adat hingga era
modern, yaitu berupa larangan bagi kampung tersebut untuk dihuni lebih atau
kurang dari tujuh kepala keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara
kritis asal-usul terbentuknya Kampung Pitu beserta aturan pembatasan jumlah
hunian tersebut, serta menganalisis pengaruh mitos dan legenda yang
melingkupinya terhadap dinamika sosial-budaya masyarakat setempat di tengah
arus pariwisata. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode
Studi Kasus Etnografis (Ethnographic Case Study). Pengumpulan data primer
dilakukan secara terfokus jangka pendek melalui wawancara mendalam bersama
dua informan kunci. Analisis data dilakukan dengan menggabungkan kerangka
teori Folklor James Danandjaja dengan teori Semiotika Mitologi Roland Barthes
Hasil penelitian pada struktur permukaan (Danandjaja) menunjukkan bahwa
Legenda Tujuh Kepala Keluarga merupakan legenda setempat yang disakralkan,
yang menjalankan empat fungsi folklor Bascom-Danandjaja sekaligus, yaitu
sebagai proyeksi harmoni komunal, pengesah hak tanah adat, media pendidikan
nilai, serta pengawas sosial melalui ancaman konsekuensi supranatural berupa
penyakit (ora kerasan) dan pantangan mementaskan kesenian wayang kulit.
Sementara itu, analisis pada struktur kedalaman (Barthes) membongkar tiga temuan
kritis yakni Naturalisasi ekologis, mitos ketidaknyamanan batin (ora kerasan) bagi
KK-8pada dasarnya merupakan proses naturalisasi atas keterbatasan daya dukung
ekologis (carrying capacity) puncak gunung karst yang kering dan ketika proyek
sumur bor PAM dari negara mengalami kegagalan teknis (ora dadi), warga
sepenuhnya bergantung pada sumber mata air Telaga Guyangan, sehingga
pembatasan kaku pada angka tujuh KK berfungsi mencegah krisis air massal dan
perebutan tanah waris; Invention of Tradition (2015),fakta sejarah lokal bahwa
nama "Kampung Pitu" baru resmi diciptakan pada tahun 2015 demi kepentingan
promosi pariwisata, dikenal sebagai "Dusun Tlogo"; Aensi dan resistensi pasif
dimana agen lokal tidak pasrah dieksploitasi oleh industri wisata komersial; mereka
melakukan perlawanan diam-diam dengan sengaja membiarkan loket tiket masuk
Kampung Pitu mati dan tidak beroperasi demi menjaga privasi keluarga besar serta
kesucian ruang ritual mereka dari gangguan pariwisata massal.
Kata kunci: folklor; mitologi Roland Barthes; legenda; Kampung Pitu; tujuh kepala
keluarga; studi kasus etnografis
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | olklor; mitologi Roland Barthes; legenda; Kampung Pitu; tujuh kepala keluarga; studi kasus etnografis |
| Subjects: | Humanities |
| Divisions: | Faculty of Humanities > Department of English Literature |
| Depositing User: | Mr Dwi Widaryanto FIB |
| Date Deposited: | 07 Aug 2026 04:27 |
| Last Modified: | 07 Aug 2026 04:27 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/58730 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
