Raihan, Muhammad Daffa (2026) PRAKTIK HARIAN PADA ANGGOTA DIAMOND GYM, BANYUMANIK, SEMARANG, DAN IMPLIKASINYA TERHADAP MASKULINITAS PADA TUBUH IDEAL PRIA. Undergraduate thesis, Fakultas Ilmu Budaya.
|
Text
SA627 Salshabilla Nurhaliza 13040222140112 OK_1.pdf Download (2MB) |
|
|
Text
SA627 Salshabilla Nurhaliza 13040222140112 OK_2.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
SA627 Salshabilla Nurhaliza 13040222140112 OK_3.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
SA627 Salshabilla Nurhaliza 13040222140112 OK_4.pdf Download (2MB) |
|
|
Text
SA627 Salshabilla Nurhaliza 13040222140112 OK.pdf Restricted to Repository staff only Download (2MB) |
Abstract
Fenomena pada pembentukan tubuh oleh pria di pusat kebugaran (gym), saat ini
telah berkembang yang pada awalnya hanya sekedar aktivitas olahraga untuk
kesehatan menjadi praktik budaya yang kompleks serta didalamnya pemaknaan
maskulinitas dibuat, dihasilkan dan dipertukarkan. Penelitian ini memiliki tujuan
agar dapat menganalisis bagaimana praktik harian pria pada anggota Diamond Gym,
Banyumanik, Semarang, dalam membentuk tubuh ideal serta dampaknya
dampaknya terhadap konstruksi maskulinitas di ruang tersebut. Pada penelitian ini
menggunakan metode etnografi dengan pendekatan kualitatif. Sehingga,
pengumpulan data dilakukan dengan melalui observasi partisipan dan wawancara
mendalam kepada pria yang termasuk kedalam anggota Diamond Gym dari
berbagai latar belakang status tubuh. Analisis data yang dilakukan dengan
menggunakan teori kuasa disipliner dari Michel Foucault dan maskulinitas
hegemonik dari R.W. Connell. Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa praktik
harian latihan fisik dengan angkat beban dan pengaturan nutrisi, merupakan bentuk
‘teknologi diri’ yang dapat mengubah tubuh alami menjadi tubuh yang patuh (docile
bodies). Sistem pengawasan (panopticon) telah dihayati, sehingga kepatuhan
terhadap rasa sakit (pain) akibat latihan berat ini telah diartikan ulang sebagai
kebutuhan internal demi tujuan untuk mencapai kesempurnaan fisik. Pada struktur
sosial, tubuh ideal yang telah terbentuk berubah fungsi menjadi modal simbolik
yang dapat menciptakan hierarki sosial tidak tertulis. Ditemukan juga, adanya
dominasi pada anggota yang memiliki kedudukan maskulinitas hegemonik terhadap
politik ruang dan atensi, di saat para anggota di bawahnya (subordinat) melakukan
komplisitas dengan menyetujui sistem standar serta penilaian melalui mekanisme
keteladanan (exemplarity). Penelitian ini juga mengungkap bahwa media sosial
memiliki peran sebagai arena kedua yang dapat memperkuat validasi status tersebut.
Sehingga, disimpulkan bahwa standar tubuh ideal bertahan karena memiliki fungsi
sebagai alat tukar status sosial yang disetujui secara bersama.
Kata Kunci: Gym, Maskulinitas Hegemonik, tubuh ideal, Tubuh patuh, Disiplin
Tubuh.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Gym, Maskulinitas Hegemonik, tubuh ideal, Tubuh patuh, Disiplin Tubuh. |
| Subjects: | Humanities |
| Divisions: | Faculty of Humanities > Department of English Literature |
| Depositing User: | Mr Dwi Widaryanto FIB |
| Date Deposited: | 05 Aug 2026 06:01 |
| Last Modified: | 05 Aug 2026 06:01 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/58563 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
