Tchaikovsky, Virtu Ozo Fable (2026) PERAN GRIYA REYOG TUA DALAM MEMPERKUAT LITERASI BUDAYA MASYARAKAT PONOROGO. Undergraduate thesis, Fakultas Ilmu Budaya.
|
Text
Cover.pdf Download (119kB) |
|
|
Text
Abstrak Indonesia.pdf Download (201kB) |
|
|
Text
BAB 1.pdf Download (212kB) |
|
|
Text
BAB 2.pdf Download (241kB) |
Abstract
Reog Ponorogo merupakan warisan budaya tak benda yang telah memperoleh
pengakuan dari UNESCO pada Desember 2024. Meskipun demikian, penguatan
pemahaman masyarakat tentang sejarah, nilai, dan simbol Reog Ponorogo sebagai
warisan budaya takbenda masih menghadapi tantangan dalam ranah pembelajaran
non-formal. Di tengah kekosongan kelembagaan formal ini, Griya Reyog Tua hadir
sebagai ruang budaya non-formal yang berupaya meningkatkan literasi budaya
masyarakat melalui koleksi artefak, interaksi sosial, dan kegiatan komunitas
budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah peran Griya Reyog Tua dalam
memperkuat literasi budaya di kalangan masyarakat Ponorogo. Metode penelitian
yang digunakan kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Metode pengumpulan
data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dari beberapa kalangan,
meliputi pengelola Griya Reyog Tua, pelaku seni aktif, tokoh masyarakat, dan
pengunjung aktif Griya Reyog Tua. Pengumpulan data wawancara juga di lengkapi
dengan observasi, dan studi dokumen, yang selanjutnya dianalisis menggunakan
reflexive thematic analysis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Griya Reyog
Tua memiliki empat peran utama dalam memperkuat literasi budaya. Pertama,
Griya Reyog Tua memfasilitasi literasi budaya melalui penggunaan artefak sebagai
teks budaya yang hidup. Kedua, Griya Reyog Tua berperan sebagai mediator
dialogis antara pengelola dan pengunjung sebagai mekanisme pembangunan
pengetahuan. Ketiga, Griya Reyog Tua menyediakan pengkondisian lingkungan
belajar non-formal yang bertindak sebagai enabler bagi proses free-choice learning
melalui integrasi warung kopi dan museum mini. Keempat, kontribusi ini
terverifikasi menghasilkan outcome pada konteks personal pengunjung berupa
penguatan dimensi sejarah, simbol, dan nilai yang mendorong munculnya perilaku
tindakan sosial secara sukarela. Namun, optimalisasi peran Griya Reyog Tua masih
menghadapi batas capaian literasi akibat ketergantungan pada sosok pengelola dan
keterbatasan finansial. Selain itu, juga batas posisi komplementer dalam ekosistem
pelestarian Reog. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan literasi budaya
secara efektif dilakukan melalui integrasi artefak, mediasi dialogis, dan ruang sosial
yang dipilih secara bebas. Oleh karena itu, keberlanjutan peran ruang budaya nonformal memerlukan dukungan sistemik dan kolaborasi lintas sektor agar pelestarian
budaya tidak semata-mata bergantung pada inisiatif individu.
Kata kunci: literasi budaya, Griya Reyog Tua, reog ponorogo, free-choice
learning, pengkondisian lingkungan belajar
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | literasi budaya, Griya Reyog Tua, reog ponorogo, free-choice learning, pengkondisian lingkungan belajar |
| Subjects: | Humanities |
| Divisions: | Faculty of Humanities > Department of Library Science |
| Depositing User: | Tugirin |
| Date Deposited: | 20 Jul 2026 04:47 |
| Last Modified: | 20 Jul 2026 04:47 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/57083 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
