Sugiarto, Vanessa Angelia (2026) PERBEDAAN BROODING SYSTEM DAN DAMPAKNYA TERHADAP KONDISI PUYUH (COTURNIX-COTURNIX JAPONICA) TERHADAP FISIOLOGI TERNAK. Undergraduate thesis, UNIVERSITAS DIPONEGORO.
|
Text
Cover-Bab3_Vanessa Angelia_23010119130236.pdf - Published Version Download (590kB) |
|
|
Text
Bab4-Dapus_Vanessa Angelia_23010119130236.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (97kB) |
|
|
Text
Lampiran-Biodata_Vanessa Angelia_23010119130236.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (128kB) |
Abstract
RINGKASAN
VANESSA ANGELIA SUGIARTO. 23010119130236. 2026. Perbedaan Brooding
System dan Dampaknya Terhadap Kondisi Puyuh (Coturnix-Coturnix Japonica)
terhadap Fisiologi Ternak. (Pembimbing: TEYSAR ADI SARJANA dan RINA
MURYANI).
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perbedaan sistem
brooding terhadap kondisi fisiologis puyuh Jepang (Coturnix coturnix japonica).
Penggunaan brooder lampu sebagai sistem brooding konvensional berpotensi
menimbulkan overlighting yang dapat memengaruhi kenyamanan dan kondisi
fisiologis ternak. Oleh karena itu, penggunaan brooder berbasis peltier dari limbah
elektronik diteliti sebagai alternatif penghasil panas yang lebih efisien dan ramah
lingkungan.
Penelitian dilaksanakan pada April–Juni 2023 di Laboratorium Produksi
Ternak Unggas, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro.
Materi yang digunakan adalah 320 ekor Day Old Quail (DOQ) betina dengan bobot
badan rata-rata 8,97±0,63 g. Perlakuan terdiri atas T0 (brooder lampu) dan T1
(brooder peltier Microlect-QG1). Parameter yang diamati meliputi frekuensi napas,
denyut jantung, saturasi oksigen, dan suhu tubuh. Data dianalisis menggunakan
independent sample t-test.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan brooder peltier
memberikan kondisi fisiologis yang lebih baik dibandingkan brooder lampu.
Frekuensi napas dan denyut jantung puyuh pada perlakuan peltier cenderung lebih
rendah, sedangkan saturasi oksigen lebih tinggi pada beberapa minggu pengamatan
(P<0,05). Suhu tubuh tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antara kedua
perlakuan (P>0,05). Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa sistem brooding
peltier mampu menciptakan lingkungan pemeliharaan yang lebih stabil sehingga
mengurangi cekaman fisiologis pada puyuh fase starter.
Kesimpulan penelitian ini adalah brooder berbasis peltier berpotensi
digunakan sebagai alternatif pengganti brooder lampu karena mampu
meningkatkan kondisi fisiologis puyuh fase starter melalui perbaikan frekuensi
napas, denyut jantung, dan saturasi oksigen.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Subjects: | Animal and Agricultural Sciences |
| Divisions: | Faculty of Animal and Agricultural Sciences > Department of Animal Agriculture |
| Depositing User: | S1 Peternakan Undip |
| Date Deposited: | 16 Jul 2026 07:02 |
| Last Modified: | 16 Jul 2026 07:02 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/56880 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
