KHOIRUNNIDA, NEILA (2026) TRADISI AMPYANG MAULID SEBAGAI PERINGATAN HARI KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW DALAM INTERPRETIVISME SIMBOLIK (Studi Kasus di Desa Loram Kulon, Kudus). Undergraduate thesis, Fakultas Ilmu Budaya.
|
Text
SA651 NEILA KHOIRUNNIDA 13040219130078 OK_1.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
SA651 NEILA KHOIRUNNIDA 13040219130078 OK_2.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
SA651 NEILA KHOIRUNNIDA 13040219130078 OK_3.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
SA651 NEILA KHOIRUNNIDA 13040219130078 OK_4.pdf Download (2MB) |
|
|
Text
SA651 NEILA KHOIRUNNIDA 13040219130078 OK.pdf Restricted to Repository staff only Download (2MB) |
Abstract
Tradisi Ampyang Maulid merupakan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW
yang dilaksanakan setiap tanggal 12 Rabiul Awal di Desa Loram Kulon, Kecamatan
Jati, Kabupaten Kudus. Tradisi ini ditandai dengan prosesi kirab budaya, doa
bersama, serta pembagian makanan kepada masyarakat sebagai simbol
kebersamaan dan rasa syukur. Tradisi Ampyang Maulid dipelopori oleh Sultan
Hadirin, tokoh penyebar Islam di Loram Kulon, yang menjadikannya sebagai
sarana dakwah sekaligus media pelestarian budaya lokal. Penelitian ini bertujuan
untuk mengungkap makna Tradisi Ampyang Maulid melalui pendekatan
interpretasi budaya Clifford Geertz, yang memandang kebudayaan sebagai system
makna dan symbol yang diwariskan. Metode penelitian yang digunakan adalah
etnografi, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipan, wawancara
mendalam, serta dokumentasi lapangan. Analisis dilakukan dengan pendekatan
interpretivisme simbolik untuk menyingkap makna simbolik, sosial, dan religius
dari tradisi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Ampyang Maulid
memiliki tiga dimensi utama: (1) Makna simbolik, di mana ampyang dan gunungan
menjadi lambang keberkahan, kebersamaan, dan rasa syukur; (2) Makna sosial,
yang tampak dalam partisipasi masyarakat lintas musholla, sekolah, dan organisasi,
sehingga memperkuat solidaritas dan identitas komunal; (3) Makna religius, yang
diwujudkan melalui doa bersama dan peringatan Maulid Nabi sebagai sarana
dakwah serta ekspresi cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan kerangka
Geertz, tradisi ini dapat dipahami sebagai sistem simbol yang membentuk jaringan
makna budaya dan religius masyarakat Desa Loram Kulon. Kesimpulan penelitian
menegaskan bahwa tradisi Ampyang Maulid bukan sekedar ritual tahunan,
melainkan sistem simbol yang meneguhkan identitas sosial, religius, dan budaya
masyarakat.
Kata kunci: Clifford Geertz, interpretasi simbolik, Ampyang Maulid, Loram
Kulon, sistem simbol
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Clifford Geertz, interpretasi simbolik, Ampyang Maulid, Loram Kulon, sistem simbol |
| Subjects: | Humanities |
| Divisions: | Faculty of Humanities > Department of Social Anthroplogy |
| Depositing User: | Tugirin |
| Date Deposited: | 15 Jul 2026 05:47 |
| Last Modified: | 15 Jul 2026 05:47 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/56746 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
