Pangestika, Chintya Nada and Windiani, Reni and Wahyudi, Fendy Eko (2026) DISKREPANSI ANTARA RETORIKA DAN REALITA: KEBIJAKAN LUAR NEGERI FEMINIS DAN KRISIS FEMICIDE DI MEKSIKO DALAM PEMERINTAHAN ANDRÉS MANUEL LÓPEZ OBRADOR. Undergraduate thesis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro.
|
Text
Chintya Nada Pangestika_14050119130041_Cover.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (809kB) |
|
|
Text
Chintya Nada Pangestika_14050119130041_Bab 1.pdf - Submitted Version Download (287kB) |
|
|
Text
Chintya Nada Pangestika_14050119130041_Bab 2.pdf - Submitted Version Download (310kB) |
|
|
Text
Chintya Nada Pangestika_14050119130041_Bab 3.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (420kB) |
|
|
Text
Chintya Nada Pangestika_14050119130041_Bab 4.pdf - Submitted Version Download (90kB) |
|
|
Text
Chintya Nada Pangestika_14050119130041_DAFTAR PUSTAKA.pdf - Submitted Version Download (151kB) |
|
|
Text
Chintya Nada Pangestika_14050119130041_LAMPIRAN.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (69kB) |
Abstract
Kebijakan Luar Negeri Feminis (FFP) merupakan sebuah kerangka kerja
progresif yang menempatkan kesetaraan gender sebagai inti dari interaksi suatu
negara di panggung global. Pada Januari 2020, Meksiko mencetak sejarah dengan
menjadi negara pertama di Amerika Latin yang secara resmi mengadopsi
kebijakan ini. Namun dalam perkembangannya, pengadopsian FFP ini melahirkan
paradoks dan diskrepansi mendalam antara retorika internasional dan realitas
domestik pada masa pemerintahan Presiden Andrés Manuel López Obrador
(AMLO). Di satu sisi, Meksiko berhasil meraup pujian global melalui komitmen
multilateralnya yang progresif. Namun, di sisi lain krisis pembunuhan perempuan
(femicide) dan ketidaksetaraan gender masih menjadi masalah di ranah domestik
yang menuai aksi protes dari masyarakat sipil dan para aktivis feminis.
Kegagalan transformasi struktural ini terjadi karena proses perumusan FFP
yang bersifat elite-driven dan top-down. Berdasarkan teori elite-driven, FFP
Meksiko dikonstruksi bukan demi kepentingan jaminan hak perempuan,
melainkan sebagai instrumen pencitraan negara untuk mendapatkan legitimasi dan
reputasi global sebagai negara progresif. Melalui pendekatan top-down dan proses
opini publik model RAS dari John Zaller, diskrepansi ini terjadi karena terdapat
perbedaan arus informasi di mana elit Kementerian Luar Negeri membangun
narasi ramah gender ke luar negeri untuk membangun opini publik internasional,
sementara Presiden AMLO menunjukan sikap yang bertentangan dengan agenda
feminis. Akibatnya, proses pengolahan informasi yang timpang ini memicu
resistensi dari kelompok feminis domestik yang memiliki kesadaran politik tinggi.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa FFP Meksiko dalam pemerintahan Presiden
Andrés Manuel López Obrador (AMLO) tidak lebih dari sekadar narasi elit yang
gagal memberikan implikasi nyata bagi penyelesaian krisis gender di dalam
negeri.
Keywords: Kebijakan Luar Negeri Feminis (FFP), Meksiko, Femicide,
Elite-Driven, Diskrepansi.
105 Hubungan Internasional
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Subjects: | Social Science and Political Science |
| Divisions: | Faculty of Social and Political Sciences > Department of International Relations |
| Depositing User: | diana nirwani |
| Date Deposited: | 01 Jul 2026 05:13 |
| Last Modified: | 01 Jul 2026 05:13 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/55380 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
