Karomah, Karomah and Satoto, Bambang and Nawangsih, christina hari (2026) KORELASI SLEDAI SCORE DENGAN HRCT SCORE PADA PASIEN SLE DENGAN INTERSTITIAL LUNG DISEASE. Masters thesis, Universitas Diponegoro.
|
Text (ABSTRAK-TESIS)
Karomah-22040922310003-TESIS ABSTRAK.pdf Download (173kB) |
Abstract
Pendahuluan: Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun kronik dengan keterlibatan multiorgan dan aktivitas penyakit yang fluktuatif. Interstitial lung disease (ILD) merupakan salah satu manifestasi paru tersering dan berat pada SLE dengan prognosis yang buruk. Aktivitas penyakit SLE dinilai menggunakan Systemic Lupus Erythematosus Disease Activity Index (SLEDAI) score, sedangkan derajat keterlibatan paru dinilai menggunakan High-Resolution Computed Tomography (HRCT) yang merupakan baku emas dalam diagnosis dan penentuan keparahan ILD. Hingga saat ini belum terdapat penelitian di Indonesia yang menilai hubungan antara aktivitas penyakit sistemik dan derajat keparahan keterlibatan paru pada pasien SLE dengan ILD. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi antara SLEDAI score dengan HRCT score pada pasien SLE dengan ILD.
Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain retrospektif cross-sectional. Subjek penelitian adalah 63 pasien SLE berusia ≥18 tahun dengan keluhan respiratori yang dicurigai ILD dan menjalani pemeriksaan HRCT toraks di RSUP Dr. Kariadi Semarang pada periode Januari 2023 hingga Februari 2026. Skor SLEDAI dinilai oleh dokter spesialis penyakit dalam, sedangkan skoring HRCT (penjumlahan komponen severity dan extent, rentang 0–30) dinilai oleh dokter spesialis radiologi konsultan toraks. Analisis statistik meliputi uji normalitas Shapiro–Wilk dan uji korelasi Rank Spearman, dengan nilai p < 0,05 dianggap bermakna secara statistik.
Hasil: Dari 63 subjek, mayoritas berjenis kelamin perempuan (54 pasien; 85,7%) dengan usia rata-rata 43,1 ± 13,0 tahun. Distribusi aktivitas penyakit berdasarkan SLEDAI didominasi aktivitas sedang (28 pasien; 44,4%), diikuti aktivitas tinggi (20 pasien; 31,7%) dan ringan (15 pasien; 23,8%). Sebanyak 36 pasien (57,1%) mengalami ILD, dengan pola tersering Nonspecific Interstitial Pneumonia/NSIP (23 pasien; 63,9%). Berdasarkan kategori HRCT, mayoritas tergolong derajat ringan (29 pasien; 46,0%) dan sedang (8 pasien; 12,7%). Uji korelasi Rank Spearman menunjukkan korelasi positif yang sangat lemah dan tidak bermakna antara SLEDAI score dan HRCT score (ρ = 0,231; p = 0,069). Usia juga tidak berkorelasi bermakna dengan skor SLEDAI (ρ = −0,233; p = 0,066) maupun skor HRCT (ρ = −0,061; p = 0,635).
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara SLEDAI score dan HRCT score pada pasien SLE dengan ILD, yang menunjukkan bahwa aktivitas penyakit sistemik secara global tidak selalu mencerminkan derajat keparahan keterlibatan paru. SLEDAI score dan HRCT score memiliki peran yang saling melengkapi: SLEDAI menilai aktivitas penyakit sistemik, sedangkan HRCT tetap menjadi baku emas untuk diagnosis dan evaluasi keterlibatan paru. Pemeriksaan HRCT toraks sebaiknya dipertimbangkan sebagai sarana deteksi dini ILD pada pasien SLE dengan keluhan respiratori, tanpa bergantung semata pada tinggi-rendahnya skor SLEDAI.
Kata kunci: Systemic lupus erythematosus, SLEDAI score, HRCT score, interstitial lung disease, aktivitas penyakit
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Kata kunci: Systemic lupus erythematosus, SLEDAI score, HRCT score, interstitial lung disease, aktivitas penyakit |
| Subjects: | Medicine |
| Divisions: | Faculty of Medicine > Master Program of Specialist Medical |
| Depositing User: | Upload Mandiri FK |
| Date Deposited: | 03 Jul 2026 04:59 |
| Last Modified: | 03 Jul 2026 04:59 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/55337 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
