Sianipar, Jefry Pinondang Sardi and Bahrudin, Bahrudin and Herry, Yan and Ahnaf, M. Fauziar (2026) PENGARUH DAPAGLIFLOZIN TERHADAP KEBERHASILAN DEKONGESTI YANG DINILAI DENGAN SKOR EVEREST, SKOR VEXUS, DAN NILAI EPCWP PADA PASIEN GAGAL JANTUNG DEKOMPENSASI AKUT DENGAN PENURUNAN FRAKSI EJEKSI. Masters thesis, Universitas Diponegoro.
|
Text (ABSTRAK)
ACFROG~1.PDF Download (112kB) |
Abstract
Latar Belakang: Gagal jantung dekompensasi akut (GJDA) merupakan bentuk gagal jantung akut yang paling sering dijumpai, menyebabkan beban rawat inap yang tinggi dan mortalitas yang bermakna. Kongesti merupakan masalah utama pada GJDA, namun dekongesti yang optimal sebelum pemulangan tetap menjadi tantangan klinis. Dapagliflozin, inhibitor sodium-glucose cotransporter-2, diketahui memiliki efek diuretik osmotik, natriuretik, dan penurunan preload yang berpotensi meningkatkan keberhasilan dekongesti.
Metode: Uji klinis acak terkontrol tersamar ganda dilakukan di RSUP Dr. Kariadi Semarang (Agustus 2025–Februari 2026). Sebanyak 62 pasien GJDA dengan EF <40%, NT-proBNP ≥300 pg/mL, dan kebutuhan furosemid intravena diacak menjadi kelompok Dapagliflozin (n=30; Dapagliflozin 10 mg/hari + terapi standar) dan kelompok Kontrol (n=32; plasebo + terapi standar). Penilaian skor EVEREST, skor VExUS, rasio E/e' serta ePCWP, dan NT-proBNP dilakukan pada baseline dan hari ke-7 atau predischarge.
Hasil: Karakteristik dasar kedua kelompok sebanding (rerata LVEF 29,5% vs 28,7%; p=0,577). Dapagliflozin secara bermakna meningkatkan volume urin kumulatif 7 hari (16.535 vs 11.790 mL; p=0,024) dan efisiensi diuretik tanpa peningkatan dosis furosemid. Proporsi keberhasilan dekongesti klinis (EVEREST skor 0–1) lebih tinggi pada kelompok Dapagliflozin namun tidak berbeda bermakna (76,7% vs 59,3%; p=0,180). Pencapaian VExUS skor 0 secara bermakna lebih banyak pada kelompok Dapagliflozin (70% vs 40,6%; p=0,024). Nilai ePCWP menunjukkan tren penurunan yang lebih besar (18,7 vs 20,3 mmHg) namun tidak bermakna secara statistik (p=0,207). Kadar NT-proBNP akhir lebih rendah bermakna pada kelompok Dapagliflozin (5.100 vs 5.808 pg/mL; p=0,048) dengan penurunan relatif yang lebih besar (41,5% vs 30,8%; p=0,004). Lama rawat inap tidak berbeda bermakna (7,9 vs 8,3 hari; p=0,932). Profil keamanan baik tanpa hipoglikemia berat, ketoasidosis, maupun perburukan fungsi ginjal bermakna.
Kesimpulan: Pemberian Dapagliflozin 10 mg/hari sejak awal rawat inap terbukti efektif meningkatkan dekongesti vena sistemik (skor VExUS) secara bermakna, meningkatkan jumlah urin kumulatif dan rerata urin harian, serta menurunkan kadar NT-proBNP lebih besar dibandingkan terapi standar, dengan profil keamanan yang dapat diterima. Dapagliflozin tidak terbukti memberikan perbedaan bermakna terhadap dekongesti klinis (skor EVEREST), dosis furosemid kumulatif maupun nilai ePCWP pada pasien GJDA dengan penurunan fraksi ejeksi.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Dapagliflozin, gagal jantung dekompensasi akut, HFrEF, EVEREST, VExUS, ePCWP, SGLT2 inhibitor |
| Subjects: | Medicine |
| Divisions: | Faculty of Medicine > Master Program of Specialist Medical |
| Depositing User: | Upload Mandiri FK |
| Date Deposited: | 01 Jul 2026 03:50 |
| Last Modified: | 01 Jul 2026 03:50 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/55071 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
