Khanafi, Regita Aulia and Sulistyani, Hapsari Dwiningtyas (2026) MEMAHAMI PENGALAMAN EKSPRESI KECEMBURUAN DALAM HUBUNGAN SITUASIONAL (SITUATIONSHIP) DI KALANGAN DEWASA MUDA. Undergraduate thesis, UNIVERSITAS DIPONEGORO FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK.
|
Text
Cover_Regita Aulia Khanaf_14040122140203.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (503kB) |
|
|
Text
Bab I_Regita Aulia Khanaf_14040122140203.pdf - Submitted Version Download (4MB) |
|
|
Text
Bab II_Regita Aulia Khanaf_14040122140203.pdf - Submitted Version Download (21kB) |
|
|
Text
Bab III_Regita Aulia Khanaf_14040122140203.pdf - Submitted Version Download (217kB) |
|
|
Text
Bab IV_Regita Aulia Khanaf_14040122140203.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (124kB) |
|
|
Text
Bab V_Regita Aulia Khanaf_14040122140203.pdf - Submitted Version Download (166kB) |
|
|
Text
Daftar Pustaka_Regita Aulia Khanaf_14040122140203.pdf - Submitted Version Download (163kB) |
|
|
Text
Lampiran_Regita Aulia Khanaf_14040122140203.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (361kB) |
Abstract
Idealnya, hubungan romantis dijalani dengan kejelasan status, komitmen, dan
definisi relasional. Namun, pada kenyataannya masih banyak dewasa muda yang
menjalin hubungan romantis tanpa kejelasan status, seperti situationship. Ambiguitas
kerap menciptakan dilema emosional, merasakan cemburu tetapi tidak memiliki
legitimasi untuk mengungkapkannya. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana
dewasa muda memaknai dan mengekspresikan kecemburuan dalam relasi ambigu
tersebut melalui pendekatan kualitatif deskriptif berparadigma interpretif terhadap
delapan informan berusia 18–29 tahun, dengan menggunakan Romantic Jealousy
Theory, Self-Disclosure Theory, dan Relational Dialectics Theory (RDT).
Temuan penelitian mengungkap tiga hal utama. Pertama, seluruh informan
mengalami ketidakjelasan status (grey area) sebagai karakteristik utama situationship
sebagian merasa dirugikan dengan kebingungan dan overthinking, sebagian lain justru
sengaja memilih ketidakjelasan sebagai mekanisme menghindari risiko emosional.
Kedua, mayoritas informan (6 dari 8) mengekspresikan kecemburuan secara nonverbal: diam, bersikap cuek, silent treatment, pola balas-balasan, hingga unggahan
media sosial yang bermakna tersirat, di mana salah satu informan secara strategis
menggunakan media sosial sebagai kanal ekspresi kecemburuan yang tidak dapat
disampaikan secara langsung. Hanya dua informan yang mengekspresikan
kecemburuan secara verbal, itupun didorong oleh kebutuhan konfirmasi. Ketiga,
sebagian besar informan terjebak dalam kondisi "punya rasa, tapi tidak punya hak", hal
ini berkaitan dengan norma sosial yang ada, sehingga membuat kecemburuan yang
dialami dipendam, disamarkan, atau dikelola secara internal.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa kecemburuan dalam situationship bukan
sekadar respons emosional, melainkan bentuk negosiasi emosi di tengah kontradiksi
relasional yang tidak pernah benar-benar terselesaikan yang dipengaruhi pula oleh
trauma masa lalu dan trust issue masing-masing individu.
Kata kunci: kecemburuan, situationship, dewasa muda, ekspresi emosi,
komunikasi interpersonal
136 Ilmu Komunikasi 2026
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Subjects: | Social Science and Political Science |
| Divisions: | Faculty of Social and Political Sciences > Department of Communication |
| Depositing User: | diana nirwani |
| Date Deposited: | 29 Jun 2026 06:56 |
| Last Modified: | 29 Jun 2026 06:56 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/54622 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
