Falakh, Muhammad Fajrul and Ardianto, Hendra Try (2026) PERAN WAHANA LINGKUNGAN HIDUP (WALHI) JAWA TENGAH DALAM ADVOKASI ADAPTASI KRISIS PESISIR UTARA SEMARANG. Undergraduate thesis, UNIVERSITAS DIPONEGORO FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK.
|
Text
Muhammad Fajrul Falakh_14010122140161_Cover.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (694kB) |
|
|
Text
Muhammad Fajrul Falakh_14010122140161_ Bab I.pdf - Submitted Version Download (447kB) |
|
|
Text
Muhammad Fajrul Falakh_14010122140161_ Bab II.pdf - Submitted Version Download (1MB) |
|
|
Text
Muhammad Fajrul Falakh_14010122140161_Bab III.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (236kB) |
|
|
Text
Muhammad Fajrul Falakh_14010122140161_Bab IV.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (18kB) |
|
|
Text
Muhammad Fajrul Falakh_14010122140161_Daftar Pustaka.pdf - Submitted Version Download (238kB) |
|
|
Text
Muhammad Fajrul Falakh_14010122140161_Lampiran.pdf - Submitted Version Download (987kB) |
Abstract
Krisis iklim pesisir utara Semarang merupakan akumulasi kegagalan
struktural-politik yang berakar pada kegagalan tata kelola pembangunan, bukan
semata fenomena alam. Penurunan muka tanah hingga 8–10 cm per tahun, kenaikan
permukaan air laut, dan banjir rob yang kian intens telah mendegradasi ekosistem
pesisir sekaligus mendesak kehidupan sosial-ekonomi komunitas nelayan yang
paling rentan. Dalam situasi ini, organisasi masyarakat sipil seperti Wahana
Lingkungan Hidup (WALHI) Jawa Tengah memainkan peran advokasi yang
strategis namun kompleks. Penelitian ini bertujuan menjelaskan peran WALHI
Jawa Tengah dalam advokasi adaptasi krisis pesisir utara Semarang secara
mendalam dan kontekstual.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan paradigma
interpretatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap enam
informan yang dipilih secara purposif, yakni dua staf WALHI Jawa Tengah,
seorang ketua asosiasi profesi perencanaan, serta tiga warga terdampak dari
Tambakrejo, Tambaklorok, dan Mangunharjo/Mangkang Wetan. Data diperkuat
melalui observasi dan kajian dokumen, kemudian dianalisis menggunakan
triangulasi sumber dan refleksi teori.
Hasil penelitian menyingkap bahwa WALHI mengonstruksi krisis pesisir
sebagai isu politik-struktural, menggeser wacana dari solusi teknokratis menuju
perlawanan terhadap ketimpangan penguasaan ruang. Secara strategis, WALHI
mengorkestrasi triangulasi advokasi lingkungan. Memproduksi kontrapengetahuan saintifik secara partisipatif, menangguhkan litigasi formal demi
resiliensi hukum adaptif, dan menggalang kemandirian ekonomi serta kesadaran di
akar rumput. Secara ideologis, organisasi ini memanifestasikan peran transformatif
untuk membangkitkan kesadaran kritis kelas bawah, seraya secara taktis
merengkuh peran konformis dan reformis guna menembus kebuntuan birokrasi
negara. Kesimpulannya, capaian advokasi WALHI menegaskan bahwa keadilan
ekologis mensyaratkan dekonstruksi relasi kuasa, bukan sekadar penambahan
infrastruktur fisik. Implikasinya, hambatan politik elektoral dan ego sektoral
birokrasi mengharuskan konsolidasi jaringan lintas sektor yang tangguh agar
agenda adaptasi pesisir yang emansipatoris dapat terwujud.
Penelitian ini menegaskan bahwa efektivitas advokasi lingkungan tidak
hanya ditentukan oleh kekuatan bukti ilmiah, melainkan juga oleh kapasitas
penerimaan pengetahuan pihak sasaran advokasi dan kecerdasan membaca risiko
politik dalam menentukan strategi.
Kata Kunci: advokasi lingkungan, peran LSM, adaptasi krisis pesisir, keadilan
ekologis, masyarakat sipil
129 Muhammad Fajrul Falakh 2026
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Subjects: | Social Science and Political Science |
| Divisions: | Faculty of Social and Political Sciences > Department of Government Science |
| Depositing User: | diana nirwani |
| Date Deposited: | 29 Jun 2026 03:45 |
| Last Modified: | 29 Jun 2026 03:45 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/54502 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
