Search for collections on Undip Repository

Faktor Risiko Sarkopenia pada Penderita Penyakit Jantung Koroner

Krisna, Nadhia Ayu and Rifqi, Sodiqur and Puruhita, Niken and Sulchan, Mohammad and Khairuddin, Khairuddin (2026) Faktor Risiko Sarkopenia pada Penderita Penyakit Jantung Koroner. Masters thesis, Universitas Diponegoro.

[thumbnail of Nadhia Ayukrisna abstrak eprints] Text (Nadhia Ayukrisna abstrak eprints)
Nadhia Ayukrisna abstrak eprints.jpg

Download (666kB)

Abstract

Latar Belakang: Sarkopenia berhubungan dengan perburukan luaran dan progresivitas penyakit kardiovaskular (PKV). Namun faktor risiko sarkopenia pada penyakit jantung koroner masih belum jelas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor risiko sarkopenia pasien PJK yang menjalani angiografi koroner.
Metode: Penelitian kasus kontrol ini dilakukan di RS Dr. Kariadi, Semarang. Sarkopenia didiagnosis berdasarkan Konsensus AWGS 2019 (Asian Working Group for Sarcopenia). Pengukuran massa otot skeletal menggunakan analisis impedansi bioelektrik (BIA) SECA mBCA 525, massa otot apendikular (ASM) dengan rumus Sergi.
Hasil: Studi ini melibatkan 128 pasien PJK berusia 42 hingga 73 tahun. Prevalensi sarkopenia 43,7%, subjek 3VD (3-vessel disease) dan reduced-EF memiliki prevalensi sarkopenia tertinggi (47,1% dan 53,8%). Median IMT pada kelompok kasus 23,34 kg/m2 secara bermakna lebih rendah (p < 0,001) dibandingkan 27,03 kg/m2 pada kelompok kontrol. Rerata SMM dan FFMI kelompok sarkopenia 17,3 ± 2,3 kg serta 19,2 ± 1,9 kg, secara bermakna lebih rendah (p < 0,001) dibandingkan kontrol. Pasien kelompok sarkopenia secara bermakna berusia lebih tua, wanita, memiliki BMI, SMM, dan FFMI, EF dan tingkat aktivitas fisik lebih rendah (p < 0,05). Analisis regresi logistik mengidentifikasi faktor risiko independen sarkopenia yaitu tingkat aktivitas fisik rendah (aOR 5,53; 95% CI 1,30–23,40), IMT kurang dari 25 kg/m2 (aOR 12,31; 95% CI 4,71–32,15), dan jenis kelamin wanita (aOR 9,84; 95% CI 2,99–32,31).
Kesimpulan: Sarkopenia umum terjadi pada pasien PJK. Tingkat aktivitas fisik yang rendah, IMT kurang dari 25 kg/m2 dan jenis kelamin perempuan merupakan faktor risiko independen sarkopenia pada pasien PJK. Subjek sarkopenia pada penelitian ini memiliki IMT, SMM, dan FFMI yang secara bermakna lebih rendah dibandingkan dengan subjek tanpa sarkopenia. Penilaian sarkopenia tidak dapat menggunakan IMT, penting dilakukan pengukuran komposisi tubuh.
Kata kunci: sarkopenia, PJK, PKV, massa otot rangka apendikular, bioelectrical impedance analysis, komposisi
tubuh

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: sarkopenia, PJK, PKV, massa otot rangka apendikular, bioelectrical impedance analysis, komposisi tubuh, penyakit jantung koroner
Subjects: Medicine
Divisions: Faculty of Medicine > Department of Medicine
Depositing User: Upload Mandiri FK
Date Deposited: 26 Jun 2026 03:07
Last Modified: 26 Jun 2026 03:07
URI: https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/53865

Actions (login required)

View Item View Item