Rosyid, Nurhadi and Wahyudi, Fendy Eko (2026) PRAKTIK PEWACANAAN OLEH PUBLIK KOREA SELATAN TERHADAP DRAMA JOSEON EXORCIST DALAM KONSTRUKSI IDENTITAS NASIONAL KOREA SELATAN DAN TIONGKOK. Undergraduate thesis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro.
|
Text
Nurhadi Rosyid_14050122130054_COVER.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (3MB) |
|
|
Text
Nurhadi Rosyid_14050122130054_BAB I.pdf - Submitted Version Download (408kB) |
|
|
Text
Nurhadi Rosyid_14050122130054_BAB II.pdf - Submitted Version Download (480kB) |
|
|
Text
Nurhadi Rosyid_14050122130054_BAB III.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (702kB) |
|
|
Text
Nurhadi Rosyid_14050122130054_BAB IV.pdf - Submitted Version Download (360kB) |
|
|
Text
Nurhadi Rosyid_14050122130054_DAFTAR PUSTAKA.pdf - Submitted Version Download (362kB) |
Abstract
Representasi budaya dan identitas nasional seringkali dijadikan arena
pertarungan oleh negara-negara, terlebih lagi pada negara yang memiliki
keterkaitan kultural dan historis. Republic of Korea (Korea Selatan) dan People's
Republic of China (Tiongkok) merupakan salah satu contoh dyad yang terikat
secara budaya dan sejarah dalam Sinosphere. Penelitian ini secara spesifik
menganalisis kontroversi Joseon Exorcist yang terjadi pada tahun 2021, di mana
terjadi ketidaksesuaian representasi budaya historis yang berlatar pada ketegangan
klaim budaya antara Korea Selatan dan Tiongkok. Dengan perspektif bottom-up,
penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana diskursus publik Korea Selatan
dalam komentar YouTube terkait kontroversi Joseon Exorcist mengonstruksi batas
simbolik identitas nasional antara Korea dan Tiongkok. Penelitian ini menggunakan
kerangka teori Popular Geopolitics untuk menjelaskan bagaimana wacana publik
dalam ruang daring dapat membentuk batas-batas simbolik antara Self dan Other.
Mengikuti pendekatan discourse analysis sebagaimana dirintis oleh Sharp (1993),
penelitian ini membaca komentar publik di YouTube sebagai teks geopolitik yang
mengonstruksi narasi identitas nasional. Sebagai referensi komplementer,
dukungan data sekunder berupa laporan berita dan pernyataan institusional juga
digunakan dalam penelitian. Penelitian menyimpulkan bahwa diskursus publik
Korea Selatan mengonstruksi batas simbolik identitas nasional melalui empat pola
yang konsisten: konstruksi Korea sebagai Self yang bermartabat dan perlu
dilindungi, konstruksi Tiongkok sebagai Other yang mengancam secara aktif,
aktivasi memori historis sebagai konteks ancaman simbolik, dan aksi kolektif
sebagai praktik Popular Geopolitics dari bawah. Problematika ini menunjukkan
bahwa identitas nasional dan geopolitik tidak semata-mata difabrikasi top-down
oleh institusi formal, melainkan merupakan proses dialektis melalui partisipasi
digital sehari-hari. Hal ini menjelaskan bagaimana media populer berfungsi sebagai
arena kontestasi geopolitik kontemporer sebagaimana diargumentasikan Sharp
(1993).
Kata Kunci: Popular Geopolitics, National Identity, Self-Other, Wacana
Publik Digital, Hubungan Korea Selatan–Tiongkok.
68. Hubungan Internasional 2026
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Subjects: | Social Science and Political Science |
| Divisions: | Faculty of Social and Political Sciences > Department of International Relations |
| Depositing User: | diana nirwani |
| Date Deposited: | 06 Apr 2026 06:11 |
| Last Modified: | 06 Apr 2026 06:11 |
| URI: | https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/48585 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
